TAFSIR AL-MUYASAR SURAT AL-HASYR 6-10

AL-HASYR : 6

وَمَا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَى مَن يَشَاء وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

TERJEMAHAN :

Dan apa saja harta rampasan (fai-i) [1466] yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk mendapatkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kudapun dan (tidak pula) seekor untapun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap apa saja yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


[1466] “Fai-i” ialah harta rampasan yang diperoleh dari musuh tanpa terjadinya pertempuran. Pembagiannya berlainan dengan pembagian “ghanimah”. Ghanimah harta rampasan yang diperoleh dari musuh setelah terjadi pertempuran. Pembagian “fai-i” sebagai yang tersebut pada ayat 7. Sedang pembagian “ghanimah” tersebut pada ayat 41 Al Anfal dan lihat not [613] dan [614]

TAFSIR :

Harta rampasan (fai’) yang di berikan Allah kepada Rasul-Nya dari harta Yahudi Bani Nadhir , yang untuk mendapatkannya kalian tidak mengendarai kuda atau unta, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada para Rasul – Nya terhadap siapa saja yang di kehendakinya dari musuh – musuh-Nya. Maka mereka menyerahkan diri kepada orang – orang beriman tanpa peperangan . Fai’, adalah apa yang di ambil dari harta benda orang – orang kafir secara haq tanpa terjadi pertempuran . Dan, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu , tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya.

AL-HASYR : 7

مَّا أَفَاء اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاء مِنكُمْ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

TERJEMAHAN :

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

TAFSIR :

Harta rampasan (fai’) yang di berikan Allah kepada rasulnya dari harta penduduk kota – kota  yang musyrik dengan tanpa mengendarai kuda atau unta, maka itu untuk Allah , Rasul – nya , yang beliau belanjakan untuk kemaslahatan kaum muslimin secara umum , kerabat rasulullah , yaitu Bani hasyim dan Bani muthalib , anak – anak yatim , yaitu anak – anak fakir yang di tinggal mati ayah mereka sebelum mencapai usia baligh , orang – orang miskin  , yaitu orang – orang membutuhkan yang tidak memiliki apa yang dapat mencukupi dan menutupi kebutuhan mereka. Dan orang yang ada dalam perjalanan , yaitu orang asing lagi musafir yang kehabisan nafkahnya dan hartanya terputus dari nya. Hal itu dimaksudkan agar harta itu jangan menjadi kepemilikan yang hanya beredar di antara orang – orang kaya saja , dan kaum fakir miskin yang terhalang darinya. Apa yang di berikan rasul kepada kalian berupa harta , atau syariatnya yang di tetapkannya untuk kalian , maka terimalah. Sementara apa yang di larangnya terhadap kalian dari mengambilnya atau mengerjakannya, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan perintah – perintah-Nya dan meninggalkan laranga-Nya . Sesungguhnya Allah sangat keras siksanya bagi siapa yang bermaksiat kepada Allah dan menyelisihi perintah dan larangannya . Ayat ini adalah dasar dalam kewajiban beramal sesuai Sunnah, baik secara perkataan, perbuatan maupun penetapan.

AL-HASYR : 8

لِلْفُقَرَاء الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

TERJEMAHAN :

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah [1467] yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.


[1467] Maksudnya: kerabat Nabi, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil yang kesemuanya orang fakir dan berhijrah.

TAFSIR :

Demikian pula harta rampasan (fai’) yang di berikan Allah kepada  Rasulnya juga di bagikan kepada fuqara Muhajirin . Yaitu orang – orang yang di usir kaum kafir quraisy dari kampung halaman dan harta benda mereka karena berharap kepada Allah semoga dia mengaruniakan rizki kepada mereka di dunia dan keridhaan di akhirat, serta menolong agama Allah dan rasul-Nya dengan berjihad di jalan Allah. Mereka itulah orang – orang yang menyelaraskan perkataan dengan perbuatan mereka.

AL-HASYR : 9

وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

TERJEMAHAN :

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Mu- hajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung

TAFSIR :

Orang – orang  yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kaum muhajjirin berhijrah, yaitu kaum anshar, mereka mencintai kaum muhajjirin dan memberikan hartanya kepada mereka. Dan mereka tidak mendapati dalam hati mereka rasa dengki terhadap kaum muhajjirin karena apa yang telah di berikan kepada mereka berupa harta fai ‘ dan selainnya. Mereka lebih  mengutamakan kaum muhajjirin dan orang – orang yang membutuhkan dibandingkan diri mereka sendiri, sekali pun mereka sendiri sangat membutuhkan. Barang siapa yang selamat dari kebakhilan dan menghalangi kelebihan hartanya (dari orang lain), mereka itulah orang – orang yang beruntung, yaitu orang yang mendapatkan apa yang mereka cari.

ASBABUN NUZUL :

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Zaid bin Asham bahwa orang-orang Anshar berkata : Ya Rasulullah, bagilah tanah dua bagian di antara kami dengan saudara-saudara kami orang-orang muhajirin. Rasulullah bersabda : Tidak, akan tetapi mereka yang membiayai dan kalian membagi hasil dengan mereka, tanahnya tetap milik kalian. Mereka berkata : Kami rela. Maka Allah menurunkan ayat 9 ini.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata : Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, dia berkata : Ya Rasulullah, aku menghadapi kesulitan. Maka beliau melihat apa yang dimiliki oleh istri-istri beliau, namun beliau tidak meilhat apa-apa. Beliau bersabda : Adakah seorang laki-laki yang mau menerimanya sebagai tamu mala mini, semoga Allah merahmatinya. Maka ada seorang laki-laki Anshar berdiri, dia berkata : Aku ya Rasulullah. Maka laki-laki Anshar ini pun membawa tamunya pulang, dia berkata kepada istrinya : Ini tamunya Rasulullah, kamu jangan menyimpan sesuatu darinya. Maka istrinya berkata : Demi Allah, aku hanya punya makanan untuk anak kecil. Suaminya berkata : Jika anak-anak ingin makan malam maka bujuklah mereka agar segera tidur, setelah itu matikan lampu dan kita sama-sama melipat perut kita mala mini. Lalu dia melakukannya, di pagi hari lalki-laki itu berangkat kepada Rasulullah, beliau pun bersabda : Allah takjub atau tertawa karena si fulan dan fulanah. Maka Allah menurunkan ayat 9 ini.

Musaddad dalam musnadnya dan Ibnul Mundzir mereka dari Abul Mutawakkil an-Naji berkata, bahwa ada seorang laki-laki dari kaum muslimin…. Lalu dia menyebutkan sepertinya, dan di dalamnya bahwa laki-laki yang menerima tamu itu adalah Tsabit bin Abu Qais bin Syammas, padanya ayat 9 ini turun.

Al-Wahidi meriwayatkan dari jalan Muharib bin Ditsar dari Ibnu Umar berkata : Seorang sahabat Rasulullah diberi hadiah sebuah kepala kambing, dia berkata : Saudaraku fulan dan keluarganya lebih memerlukan daripada kita. Maka dia mengirimnya kepadanya, selanjutnya kepala ini berputar di antara tujuh keluarga sampai akhirnya ia kembali kepada orang pertama, maka turun ayat 9 ini.

AL-HASYR : 10

وَالَّذِينَ جَاؤُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

TERJEMAHAN :

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

TAFSIR : Orang – orang  Mukmin yang datang sesudah kaum Muhajirin dan Anshar yang pertama berdoa : Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan ampunilah saudara-saudara kami seagama yang telah beriman lebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau masukkan kedengkian dalam hati kami terhadap salah seorang dari orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau merahmati para hamba-Mu dengan rahmat yang luas, baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka. Dalam ayat ini terdapat dalil hendaknya seorang muslim mengingat kebaikan pendahulunya dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Dan hendaknya mencintai para shahabat Rasulullah, menyebutkan kebaikan mereka dan ridah terhadap mereka.

Bagikan

PPDB ONLINE

VIDEO PROFIL IBNU UMAR

Putar Video

TAFSIR AL- MUYASSAR

TAFSIR AL-MUYASAR SURAT ATH-THAGHAABUN AYAT 7

ATH-THAGHAABUN : 7- زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ TERJEMAHAN : Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan

Selengkapnya »