Tafsir As-Sa’di Surat Al-Baqarah ayat 119

Al-Baqarah (2:119)

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ

Terjemah:
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang penghuni-penghuni neraka.

Tafsir:

(119){إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗاۖ}
“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.” Ayat ini meliputi semua ayat yang dia bawa, yang berporos pada tiga perkara, Pertama, berkaitan dengan kerasulannya itu sendiri, dan yang kedua; pada kehidupan, petunjuk, dan bimbingannya, dan yang ketiga; pada pengetahuan tentang apa yang dibawa olehnya berupa al-Quran dan as-Sunnah. Perkara pertama dan kedua masuk dalam Firman Allah, {إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ} “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad),” sedang perkara ketiga masuk dalam FirmanNya, {بِٱلۡحَقِّ} “dengan kebenaran.” Penjelasan tentang perkara pertama, yaitu kerasulannya itu sendiri, bahwasanya telah diketahui tentang kondisi penduduk bumi sebelum diutusnya beliau ﷺ, yang mana mereka menyembah berhala, api dan salib serta merubah-rubah agama, hingga mereka berada dalam gelapnya kekafiran yang telah menguasai dan merasuki mereka semua, kecuali segelintir dari ahli Kitab yang telah punah sesaat sebelum kerasulan tiba. Sungguh telah diketahui bahwasanya Allah تعالى tidaklah menciptakan makhluk-makhlukNya dengan sia-sia dan Dia tidak membiarkan mereka berjalan sendiri, karena Allah itu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui, Mahamampu lagi Maha Pengasih, maka di antara hikmah dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambaNya adalah bahwa Dia mengutus kepada mereka Rasul yang mulia tersebut yang mengajak mereka kepada penyembahan hanya semata kepada Dzat yang Mahakasih, yang tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya dengan sebatas kerasulannya, seorang yang berakal akan mengetahui kebenarannya, dan itulah tanda yang paling besar yang menunjukkan bahwasanya beliau itu adalah Rasulullah ﷺ. Penjelasan perkara yang kedua adalah barangsiapa yang mengenal Nabi ﷺ secara baik dan sempurna, dan dia mengetahui sejarah hidupnya dan kehidupannya sebelum diutus serta perkembangan hidupnya dengan berpedoman kepada sifat-sifat yang mulia, kemudian setelah itu bertambah mulia dan luhur akhlak dan sifat-sifatnya yang agung dan indah bagi orang yang memandangnya, maka barangsiapa yang mengetahuinya dan menapaki kondisi-kondisinya, niscaya dia akan mengetahui bahwasanya semua itu tidaklah mungkin kecuali merupakan akhlak-akhlak para Nabi yang sempurna, karena Allah تعالى telah menjadikan sifat-sifat sebagai tanda terbesar untuk mengetahui pemiliknya dari sisi kebenaran dan kebohongannya. Sedangkan perkara yang ketiga adalah mengetahui apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ berupa syariat yang agung dan al-Quran yang mulia yang mengandung segala kabar yang shahih, perintah-perintah kepada hal yang baik, larangan-larangan dari hal-hal yang buruk, dan mukjizat-mukjizat yang besar, maka seluruh tanda-tanda itu masuk ke dalam ketiga perkara tersebut. FirmanNya, {بَشِيرٗا} “Sebagai pembawa berita gembira,” yaitu bagi orang yang menaatimu dengan kebahagiaan dunia maupun akhirat, {وَنَذِيرٗاۖ} “dan pemberi peringatan,” yaitu bagi orang yang bermaksiat kepadamu dengan kesengsaraan dan kehancuran dunia maupun akhirat. وَلَا تُسۡـَٔلُ عَنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلۡجَحِيمِ “Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka,” maksudnya, kamu tidaklah bertanggung jawab terhadap mereka, karena kamu hanya menyampaikan dan Kami-lah yang akan membalasnya.

Scroll to Top