Unsinkable (Tidak Akan Tenggelam) – Mutiara Al Kahfi1…Tauhid vs Syirik

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku semoga kita selalu diberi rahmat oleh Allah Ta’laa.

Judul di atas adalah julukan kapal laut yang sangat besar pada zamannya, “Titanic (Raksasa)” yang pemiliknya membuatnya untuk tidak tenggelam.
Tetapi itu hanya judul yang kita tidak akan membahasnya secara panjang.

Bahasan kali ini adalah surat Al Kahfi yang kita selalu baca setiap hari jumat atau malam jumat berisi pelajaran yang indah.
Diantaranya adalah dialog dua orang yang berbeda aqidahmya.
Kisahnya jelas tidak perlu ulasan yang dalam.
Silahkan baca sebelum beraktifitas lainya atau di waktu luang.
Usahakan kita mempunyai waktu untuk Allah Ta’ala untuk KalamNya yang agung.
Kita mulai dari ayat 32 sampai ayat 44

(32). ۞ وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.
(33). كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا ۚوَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا
Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,
(34). وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا
dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu’min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”.
(35). وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا
Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,
(36). وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا
dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”.
(37). قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
(38). لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا
Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.
(39). وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚإِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا
Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Maa Syaa Allah, Laa Quwwata Illa Billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,
(40). فَعَسَىٰ رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا
maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.
41). أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا
atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”.
(42). وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.
(43). وَلَمْ تَكُنْ لَهُ فِئَةٌ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنْتَصِرًا
Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.
(44). هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚهُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا
Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.

Pelajaran dari ayat.

1. [Ayat 32] Allah Ta’alaa memberi pelajaran tentang dua orang laki-laki yang beriman dan yang kafir.Orang kafir yang kaya memiliki dua kebun.

2. [Ayat 33] Kebun yang menghsilkan buah yang melimpah dan ada sungai yang mengalir.

3. [Ayat 34] Kekafiran menjadikan orang sombong akan harta lalu kesombongannya biasanya diucapkan karena ingin bangga, atau ingin menyakiti orang miskin. Ini contoh ucapannya “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”.
Memang kalau banyak harta banyak yang mengjkuti. Begitu jatuh miskin pengikut banyak yang bubar.

4. [Ayat 35] Kesombongan yang memuncak sehingga seseorang merasa miliknya kekal. Dalam berita pemilik kapal Titanic menyatakan bahwa kapal besar ini tidak akan tenggelam maka julukannya adalah unsinkable` (tak pernah bisa tenggelam). Padahal Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka…(Yaa siin 43)
Sedang ucapan pemilik kebun adalah “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya”.

5. [Ayat 36] Selain sombong sipemilik kebun tidak percaya hari kiamat, dan jika mati akan mendapat tempat yang lebih baik dari kebunnya..ini aqidah hayalan..silahkan baca ulangan ayat 36.

6. [Ayat 37] Kawannya orang beriman memberi nasehat yang agung penuh kecintaan agar dia mendapat hidayah dengan mengingatkan bahwa Allah Ta’ala yang menciptakan dirinya dari tanah kemudian dari air mani dan menjadi seorang yang sempurna.

7.[Ayat 38] “Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.
Inilah seharusnya ucapan seorang da’i dia benar-benar bangga dengan aqidahnya dan tidak silau dengan harta yang dimiliki kawannya.

8.[Ayat 39] Bahkan da’i tersebut mengajarkan kalimat agung yaitu
“Maa Syaa Allah, Laa Quwwata Illa Billah” (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Itulah pelajaran jika kita kagum akan keindahan, kecantikan, ketampanan anak kita atu anak orang lain ucapkan “Maa Syaa Allah”, agar tidak terkena ‘ain.

9.[Ayat 39-44] Silahkan baca ayatnya di atas proses kehancuran kesyirikan, kesomhongan, kekafiran kadang kala dibalas di dunia dan di akhirat.Ucapan kesombongan yang ditutup penyesalannya adalah “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.

Semoga nasehat ini bermanfaat untuk diri dan keluarga juga untuk kaum muslimin dan muslimat.

Wallahu a’alam
===
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Akhukum fillah

Abdurrahim Ayyub
===
Sekolah dan Pondok Tahfidz
Ibnu Umar
Ciputat-Pamulang-Cibodas
www.ibnuumar.sch.id

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*