Tafsir Al-Muyasar Surat At-Taubah 111-120

AT TAUBAH : 111

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Terjemah :
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Tafsir :
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin diri mereka. Sebagai pengganti itu, Allah memberikan surga untuk mereka. Allah telah mempersiapkan (didalam surga itu) berbagai kenikmatan karena mereka telah menyerahkan seluruh jiwa dan harta mereka untuk berjihad di jalan Allah, memerangi musuh-musuh-Nya, menegakkan kalimat-Nya, dan memenangkan agama-Nya, kemudian mereka membunuh atau terbunuh. Semua itu adalah janji Allah yang hak di dalam Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, dan di dalam Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan di dalam al-Qur an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad صلی الله عليه وسلم. Tiada seorang pun yang bisa lebih menepati janji melebihi Allah bagi orang yang memenuhi apa yang Allah janjikan. Maka dari itu, tampakkanlah kegembiraan kalian (hai orang-orang Mukmin) dengan jual beli yang kalian lakukan dengan Allah ini, dan dengan balasan yang telah dijanjikan Allah, yaitu surga dan keridhaan-Nya. Jual beli ini adalah keberuntungan yang sangat besar.

AT TAUBAH : 112

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Terjemah :
Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat [662], yang ruku, yang sujud, yang menyuruh berbuat maruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mumin itu.
________________________________________
[662] Maksudnya: melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad. Ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.
Tafsir :
Di antara sifat-sifat orang Mukmin yang dijanjikan surga adalah orang-orang yang bertaubat, kembali dari perbuatan yang dibenci Allah menuju perbuatan yang disukai dan diridhai-Nya. Mereka ikhlas dalam beribadah kepada Allah semata, bersungguh-sungguh taat kepada-Nya, dan juga selalu memuji Allah dalam setiap cobaan yang diterimanya, baik cobaan itu berupa kebaikan atau keburukan. Mereka juga adalah orang-orang yang senantiasa berpuasa dan selalu mendirikan shalat, menyuruh orang-orang melakukan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya serta melarang apa yang dilarang oleh-Nya dan oleh Rasul-Nya. Mereka menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan dengan memperhatikan perintah dan larangan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang berdiri diatas ketaatan dan senantiasa memelihara hukum-hukum Allah. Maka dari itu, berikanlah kepada orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut kabar gembira (wahai Nabi) bahwa mereka akan mendapat kerdhaan Allah dan surga-Nya.

AT TAUBAH : 113

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
Terjemah :
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.
Tafsir :
Tidak sepantasnya Nabi Muhammad صلی الله عليه وسلم dan orang-orang Mukmin memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang musyrik setelah mereka mati, meskipun mereka adalah sanak kerabat Nabi dan orang-orang Mukmin apabila mereka mati dalam keadaan menyekutukan Allah, menyembah berhala, dan sesudah jelas bahwa mereka adalah para penghuni Neraka Jahanam karena mereka mati dalam keadaan musyrik. Allah tidak mengampuni dosa orang-orang musyrik, sebagaimana firman-Nya : Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya, dan firman-Nya : Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka Allah mengharamkan surga baginya. (Qs.Al-Maidah : 72).

Asbabun Nuzul :

Asy-Syaikhan meriwayatkan dari jalan Said bin Musayyib dari bapaknya berkata : Pada saat Abu Thalib menghadapi ajal, Rasulullah صلی الله عليه وسلم datang kepadanya, sementara di sisinya terdapat Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah, Rasulullah صلی الله عليه وسلم meminta : Paman, katakana laa ilaaha illallah, yang dengannya aku akan membelamu di depan Allah. Abu Jahal dan Abdullah berkata : Wahai Abu Thalib apakah kamu sudah membenci agama Abdul Muththalib? Keduanya terus berbicara kepadanya sehingga ucapan terakhir Abu Thalib adalah, mati di atas agama Abdul Muththalib. Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda : Aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang. Maka turunlah ayat 113 ini.

AT TAUBAH : 114

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ
Terjemah :
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.
Tafsir :
Tidak lain permohonan ampun Nabi Ibrahim kepada Allah untuk bapaknya yang musyrik hanyalah untuk memenuhi janji yang telah diucapkan kepada bapaknya. Janji itu sebagaimana yang tertulis dalam firman Allah : aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (Qs.Maryam : 47). Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu merupakan musuh Allah, peringatan dan nasihat tidak lagi masuk kepadanya, dan bahwa bapaknya akan mati dalam keadaan kafir. Lalu Ibrahim meninggalkan bapaknya dan tidak memohonkan ampunan untuknya. Dia berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim itu sangat besar rasa tawadhunya kepada Allah, sangat pemaaf terhadap kesalahan kaumnya.

AT TAUBAH : 115

وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُم مَّا يَتَّقُونَ إِنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemah :
Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan [663] suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi [664]. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
________________________________________
[663] Lihat not 34.
[664] Maksudnya: seseorang hamba tidak akan diazab oleh Allah semata-mata karena kesesatannya, kecuali jika hamba itu melanggar perintah-perintah yang sudah dijelaskan.
Tafsir :
Dan Allah tidak akan menyesatkan suatu kaum setelah Allah memberi mereka hidayah dan taufik sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus ditakuti dan dijauhi dan apa yang mereka butuhkan di dalam pokok-pokok agama dan cabangnya. Sesungguhnya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu telah mengajari kalian apa yang kalian tidak ketahui, menjelaskan kepada kalian apa yang bermanfaat bagi kalian, dan memberikan hujjah kepada kalian untuk menyampaikan risalah-Nya.

AT TAUBAH : 116

إِنَّ اللّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ يُحْيِـي وَيُمِيتُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
Terjemah :
Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.
Tafsir :
Sesungguhnya Allah Penguasa langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan, pengaturan, penghambaan dan syariat-Nya. Allah menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan mematikan siapa saja yang dikehendaki-Nya pula. Tidak ada pelindung dalam urusan kalian dan tidak ada penolong yang mampu menolong kalian menghadapi musuh-musuh kalian selain Allah.

AT TAUBAH : 117

لَقَد تَّابَ الله عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Terjemah :
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,
Tafsir :
Allah telah memberikan taufik kepada Nabi-Nya Muhammad صلی الله عليه وسلم untuk kembali dalam ketaatan kepada-Nya, juga menerima taubat orang-orang Muhajirin yang meninggalkan kediaman dan keluarga mereka menuju negeri Islam, juga taubat orang-orang Anshar yaitu para penolong Rasulullah صلی الله عليه وسلم yang pergi bersamanya untuk memerangi musuh pada peperangan Tabuk, pada hari yang sangat panas dengan perbekalan dan persiapan yang sangat sedikit. Allah juga telah menerima taubat mereka setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling dari kebenaran, mereka cenderung untuk meninggalkan peperangan dan tinggal di rumah. Akan tetapi, Allah memantapkan dan menguatkan mereka serta mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Penyayang terhadap mereka baik di dunia atau di akhirat. Di antara kasih sayang Allah adalah bahwa Allah telah menganugerahkan kepada mereka pengampunan-Nya, menerima taubat mereka, dan menetapkan mereka sebagai orang yang diterima taubatnya.

Asbabun Nuzul :

Al-Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Kaab bin Malik berkata : Aku tidak pernah tertinggal dari Nabi صلی الله عليه وسلم dalam suatu peperangan pun selain Badar, sampai akhirnya datang Perang Tabuk, ia adalah perang terakhir beliau, maka Nabi صلی الله عليه وسلم memerintahkan orang-orang berangkat jihad. Lalu dia menyebutkan hadits selengkapnya didalamnya. Maka Allah menurunkan ayat 117 ini tentang taubat kami. Dia berkata : Kepada kami juga diturunkan ayat 119.

AT TAUBAH : 118

وَعَلَى الثَّلاَثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُواْ حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّواْ أَن لاَّ مَلْجَأَ مِنَ اللّهِ إِلاَّ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Terjemah :
dan terhadap tiga orang [665] yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
________________________________________
[665] Yaitu Kaab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi. Mereka disalahkan karena tidak ikut berperang.
Tafsir :
Demikian pula, Allah menerima taubat tiga orang Anshar yang berpaling dari peperangan (tidak ikut perang), yaitu Kaab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi. Mereka meninggalkan Rasulullah صلی الله عليه وسلم kemudian mereka merasa sangat bersedih dan menyesal. Sampai ketika mereka merasa bumi yang luas terasa sempit karena kesedihan dan penyesalan mereka karena berpalingnya mereka dan jiwa mereka terasa sempit karena kesedihan yang mereka rasakan, dan mereka meyakini bahwa tidak ada tempat berlindung selain kepada Allah, maka Allah memberi mereka taufik untuk kembali pada ketaatan dan keridhaan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.

Asbabun Nuzul :

Ketika ayat 102 turun, Nabi صلی الله عليه وسلم membuka ikatan mereka dan memaafkan mereka, tinggal tiga orang yang tidak mengikat diri mereka, mereka tidak disebut apapun, mereka itulah orang-orang di mana Allah berfirman tentang mereka dalam ayat 106. Maka orang-orang banyak yang berkata : Mereka binasa jika Allah tidak menurunkan ampunan-Nya kepada mereka. Ada juga yang berkata : semoga Allah mengampuni mereka. Sehingga turunlah ayat 118 ini.

AT TAUBAH : 119

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
Terjemah :
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
Tafsir :
Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan menjalankan syariat-Nya, kerjakanlah perintah-perintah Allah dan jauhilah larangan-larangan-Nya dalam setiap apa yang kalian kerjakan dan tinggalkan. Hendaklah kalian bersama orang-orang yang menepati janji dan sumpah mereka pada setiap keadaan.

AT TAUBAH : 120

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ الأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ اللّهِ وَلاَ يَرْغَبُواْ بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَطَؤُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Terjemah :
Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,
Tafsir :
Tidaklah pantas bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang tinggal di sekitar Madinah berdiam diri bersama keluarganya di rumahnya dan tidak turut menyertai Rasulullah صلی الله عليه وسلم berperang. Juga tidak pantas bagi mereka lebih menyukai diri mereka bersantai, sedangkan Rasulullah صلی الله عليه وسلم berada dalam kesusahan dan kepayahan. Sebab, tidaklah kehausan,kelaparan, dan kepayahan yang mereka rasakan dalam perjalanan dan jihad mereka di jalan Allah, juga tidaklah mereka menginjakkan kaki di suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan juga apa yang mereka terima dari musuh-musuh Allah dan musuh-musuh mereka, berupa terbunuh atau kekalahan, melainkan semua itu dicatat sebagai amal shalih yang ditetapkan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, yang segera melaksanakan perintah Allah dan menjalankan hak Allah dan hak makhluk-Nya yang menjadi kewajibannya.

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*