Tafsir Al-Muyasar Surat An-Nisa 41-50

AN NISA : 41

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَـؤُلاء شَهِيدًا
Terjemah :
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu [299]).

[299] Seorang nabi menjadi saksi atas perbuatan tiap-tiap umatnya, apakah perbuatan itu sesuai dengan perintah dan larangan Allah atau tidak.
Tafsir :
Bagaimana keadaan manusia di Hari Kiamat manakala Allah mengumpulkan semua umat dengan Rasul-Nya agar dia bersaksi atasnya dengan apa yang diperbuat, dan Allah menghadirkanmu wahai Rasul agar kamu menjadi saksi atas mereka dan atas umatnya, bahwa kamu telah menyampaikan risalah Tuhanmu kepada mereka?

AN NISA : 42

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُواْ وَعَصَوُاْ الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّى بِهِمُ الأَرْضُ وَلاَ يَكْتُمُونَ اللّهَ حَدِيثًا
Terjemah :
Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah [300], dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.

[300] Maksudnya : mereka dikuburkan atau mereka hancur menjadi tanah.
Tafsir :
Di hari itu orang-orang yang kafir kepada Allah, menyelisihi Rasul dan tidak menaatinya berharap Allah menjadikan mereka sama dengan bumi, sehingga mereka menjadi tanah agar mereka tidak dibangkitkan dan mereka tidak kuasa menyembunyikan apa pun dalam hati mereka dari Allah, karena Allah mengunci mulut mereka, lalu anggota tubuh mereka bersaksi terhadap apa yang mereka perbuat.

AN NISA : 43

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مِّنكُم مِّن الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Terjemah :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub [301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
________________________________________
[301] Menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.
Tafsir :
Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, jangan mendekati shalat dan jangan melaksanakannya saat kalian dalam keadaan mabuk sehingga kalian mengetahui dan menyadari apa yang kalian ucapkan, (hal ini sebelum pengharaman khamar secara total dalam keadaan apa pun). Dan jangan mendekati shalat saat kalian dalam keadaan hadats besar, jangan pula mendekati tempat-tempatnya yaitu masjid, kecuali siapa diantara kalian yang hanya sekedar numpang lewat dari satu pintu ke pintu lainnya sehingga kalian bersuci dengan mandi. Bila kalian dalam keadaan sakit yang karenanya kalian tidak mampu untuk menggunakan air, atau saat dalam perjalanan, atau salah seorang di antara kalian selesai buang hajat, atau kalian melakukan hubungan suami istri lalu kalian tidak mendapatkan air untuk bersuci, maka carilah debu yang suci, sapulah wajah dan tangan kalian darinya. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf, Dia memaafkan kesalahan-kesalahan kalian dan menutupinya atas kalian.

Asbabun Nuzul :

Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dan al-Hakim meriwayatkan dari Ali, ia berkata : Abdurrahman bin Auf membuat makanan bagi kami, dai mengundang kami dan memberi kami minum khamar. Khamar itun pun berpengaruh pada syaraf kami. Ketika waktu shalat tiba lalu mereka menjadikanku sebagai imam maka aku membaca surat al-Kafirun, yang artinya : Katakanlah, Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami menyembah apa yang kamu sembah. Maka Allah menurunkan ayat 43 ini.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata : Ayat ini turun pada seorang laki-laki Anshar. Dia sakit dan tidak bisa berdiri untuk berwudhu. Dia tidak mempunyai pelayan yang membantunya, hal itu disampaikan kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم, maka Allah menurunkan ayat 43 ini.

AN NISA : 44

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلاَلَةَ وَيُرِيدُونَ أَن تَضِلُّواْ السَّبِيلَ
Terjemah :
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat) ? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).
Tafsir :
Apakah kamu tidak mengetahui wahai Rasul perkara orang-orang Yahudi yang telah diberi sebagian dari ilmu tentang Taurat yang mereka terima, mereka menukar petunjuk dengan kesesatan, meninggalkan bukti-bukti dan tanda-tanda kuat yang menunjukkan kebenaran risalah Rasulullah Muhammad صلی الله عليه وسلم, dan mereka berharap bagi kalian wahai orang-orang mukmin agar menyimpang dari jalan yang lurus sehingga kalian sama-sama sesat seperti mereka.

Asbabun Nuzul :

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rifa ah bin Zaid at-Tabut adalah seorang pembesar Yahudi, jika dia berbicara dengan Rasulullah صلی الله عليه وسلم dia membelokkan lidahnya. Dia berkata : Wahai Muhammad, berikan pendengaranmu sehingga kami bisa memahamimu. Kemudian dia mencela Islam dengan main-main, maka Allah menurunkan padanya ayat 44 ini.

AN NISA : 45

وَاللّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ وَكَفَى بِاللّهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللّهِ نَصِيرًا
Terjemah :
Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh- musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).
Tafsir :
Allah lebih mengetahui daripada kalian wahai orang-orang mukmin permusuhan orang-orang Yahudi kepada kalian. Cukuplah Allah sebagai penolong yang menjaga kalian, cukuplah Allah sebagai pendukung yang membantu kalian atas musuh-musuh kalian.

AN NISA : 46

مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِن لَّعَنَهُمُ اللّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلاَ يُؤْمِنُونَ إِلاَّ قَلِيلاً
Terjemah :
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya [302]. Mereka berkata : Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya [303]. Dan (mereka mengatakan pula) : Dengarlah sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa- apa [304]. Dan (mereka mengatakan) : Raaina [305], dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan : Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.
________________________________________
[302] Maksudnya : mengubah arti kata-kata, tempat atau menambah dan mengurangi.
[303] Maksudnya mereka mengatakan : Kami mendengar, sedang hati mereka mengatakan : Kami tidak mau menuruti.
[304] Maksudnya mereka mengatakan : Dengarlah, tetapi hati mereka mengatakan : Mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarkan (tuli).
[305] Lihat not 80.
Tafsir :
Di antara orang-orang Yahudi ada sekelompok orang yang selalu merubah kalam Allah dan menggantinya dari tempatnya yang benar dengan dasar berbuat dusta atas nama Allah. Mereka berkata kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم : Kami mendengar perkataanmu namun kami mendurhakai perintahmu, dengarkanlah kami dan semoga kamu tidak didengarkan. Mereka juga berkata : Berikanlah pendengaranmu. Yakni pahamilah kami dan buatlah kami paham. Mereka membelokkan lidah mereka dengannya, maksud mereka adalah mendoakan ru unah (kebodohan) atas Nabi صلی الله عليه وسلم menurut bahasa mereka dan mencela agama Islam. Sekiranya mereka mengucapkan : Kami dengarkan dan kami taati, dan bukan kami durhakai. Dengarkanlah, dan bukan semoga kamu tidak didengarkan, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka di sisi Allah dan lebih lurus dari sisi perkataan. Akan tetapi Allah mengusir mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh kekufuran mereka dan pengingkaran mereka terhadap kenabian Muhammad صلی الله عليه وسلم. Mereka tidak membenarkan kebenaran kecuali hanya sedikit dan itu tidak bermanfaat bagi mereka.

AN NISA : 47

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ آمِنُواْ بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَكُم مِّن قَبْلِ أَن نَّطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللّهِ مَفْعُولاً
Terjemah :
Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang [306] atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat masiat) pada hari Sabtu [307]. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.
________________________________________
[306] Menurut kebanyakan mufassirin, maksudnya ialah mengubah muka mereka lalu diputar kebelakang sebagai penghinaan.
[307] Lihat ayat 65 surat Al Baqarah dengan not 59 dan ayat 163 Al Araaf.
Tafsir :
Wahai Ahli Kitab, berimanlah dan amalkanlah al-Qur an yang telah Kami turunkan, yang membenarkan kitab-kitab yang turun kepada kalian sebelum Kami menyiksa kalian karena keburukan perbuatan kalian, sehingga Kami akan menghapus wajah-wajah kalian dan memutarnya ke belakang, atau Kami melaknat para pembuat kerusakan tersebut dengan merubah wujud mereka menjadi kera dan babi sebagaimana kami telah melakukannya terhadap orang-orang Yahudi yang melanggar di hari Sabtu, di mana mereka telah dilarang untuk menjala ikan di hari itu namun mereka tidak mengindahkannya. Maka Allah murka kepada mereka dan mengusir mereka dari rahmat-Nya. Ketetapan Allah pasti akan terjadi dalam keadaaan apa pun.

AN NISA : 48

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Terjemah :
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
Tafsir :
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dan tidak memaafkan siapa yang mempersekutukanNya dengan sesuatu dan makhluk-Nya atau dia kafir dengan bentuk kekufuran apa pun dari jenis kufur akbar. Sebaliknya Dia memaafkan dosa-dosa dibawah syirik bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Barangsiapa yang melakukan syirik kepada Allah, maka dia telah melakukan dosa yang besar.

Asbabun Nuzul :

Ibnu Abu Hatim dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, dia berkata : Aku mempunyai keponakan yang tidak mau meninggalkan perbuatan yang haram. Nabi صلی الله عليه وسلم bertanya : Apa agamanya? Dia menjawab : Dia shalat dan mentauhidkan Allah. Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda : Mintalah agamanya darinya, jika dia menolak maka belilah ia darinya. Maka laki-laki ini melakukan itu kepadanya tetapi dia menolak, dia datang kepada Nabi صلی الله عليه وسلم dan berkata : Aku mendapatkannya mempertahankan agamanya. Maka turunlah ayat 48 ini.

AN NISA : 49

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنفُسَهُمْ بَلِ اللّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاء وَلاَ يُظْلَمُونَ فَتِيلاً
Terjemah :
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih ? [308]. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.

[308] Yang dimaksud di sini ialah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap diri mereka bersih. Lihat ayat 80 dan ayat 111 surat Al Baqarah dan ayat 18 surat Al Maaidah.
Tafsir :
Apakah kamu wahai Rasul tidak mengetahui perkara orang-orang yang menyanjung diri mereka dan amal perbuatan mereka, dan menyatakannya suci dan jauh dari keburukan? Padahal hanya Allah yang berhak menyanjung hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki karena hanya Dia yang mengetahui hakikat amal perbuatan mereka. Dan Allah tidak mengurangi sedikitpun balasan bagi amal perbuatan mereka sekalipun hanya setipis kulit di antara daging kurma dengan bijinya.

AN NISA : 50

انظُرْ كَيفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِثْمًا مُّبِينًا
Terjemah :
Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah ? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).
Tafsir :
Lihatlah kepada mereka wahai Rasul dengan ketakjuban terhadap keadaan mereka, bagaimana mereka berani membuat kedustaan atas nama Allah padahal Dia patut disucikan dari segala yang tidak patut bagi-Nya? Cukuplah kedustaan ini sebagai dosa besar yang menyingkap kerusakan keyakinan mereka.

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*