Tafsir Al-Muyasar Surat An-Nisa 121-130

AN NISA : 121

أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلاَ يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا
Terjemah :
Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari dari padanya.
Tafsir :
Tempat kembali mereka adalah Jahannam, mereka tidak menemukan jalan keluar dan tempat selamat darinya.

AN NISA : 122

وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا وَعْدَ اللّهِ حَقًّا وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللّهِ قِيلا
Terjemah :
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?
Tafsir :
Orang-orang yang imannya kepada Allah benar dan mengiringi iman mereka dengan amal shalih, maka Allah akan memasukkan mereka dengan karunia-Nya ke dalam surga yang mengalir dibawah pohon-pohon dan istana-istananya sungai-sungai, mereka tinggal selamanya didalamnya sebagai sebuah janji dari Allah yang tidak menyelisihi janji. Tidak ada yang lebih benar perkataan dan janjinya daripada Allah.

AN NISA : 123

لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلاَ يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللّهِ وَلِيًّا وَلاَ نَصِير
Terjemah :
(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong [353] dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.
________________________________________
[353] Mu di sini ada yang mengartikan dengan kaum muslimin dan ada pula yang mengartikan kaum musyrikin. Maksudnya ialah pahala di akhirat bukanlah menuruti angan-angan dan cita-cita mereka, tetapi sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama.
Tafsir :
Keutamaan yang besar ini tidak didapatkan dengan angan-angan yang kalian gantungkan wahai kaum muslimin, tidak pula dengan angan-angan yang digantungkan oleh ahli kitab, orang-orang Yahudi dan Nasrani. Akan tetapi ia diraih dengan iman yang benar kepada Allah, dan memperbaiki amal perbuatan yang diridhai-Nya. Barangsiapa melakukan perbuatan buruk, maka dia akan dibalas dengannya, dan dia tidak akan menemukan selain Allah sebagai pemelihara yang mengurusi perkara dan kepentingannya dan tidak pula penolong yang bisa membantu dan menolak siksa yang buruk darinya.

Asbabun Nuzul :

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata : Orang-orang Nasrani berkata : Yang masuk surga hanyalah kami. Orang-orang Quraisy berkata : Kami tidak akan dibangkitkan. Maka Allah menurunkan ayat 123 ini.

Dia meriwayatkan riwayat senada dari Qatadah, adh-Dhahhak, as-Suddi dan Abu Shalih, lafazh mereka : Para pemeluk agama saling berbangga diri. Dalam sebuah lafazh : Orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Islam berkumpul, lalu masing-masing dari mereka berkata : Kami yang lebih baik. Maka ayat 123 ini turun.

AN NISA : 124

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتَ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَـئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
Terjemah :
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.
Tafsir :
Barangsiapa yang melakukan perbuatan-perbuatan baik, dia laki-laki maupun wanita, sementara dia beriman kepada Allah dan beriman kepada kebenaran yang Dia turunkan, maka Allah akan memasukkan mereka kedalam surga, rumah kenikmatan. Dan pahala amal perbuatan mereka tidak dikurangi sedikit pun, sekalipun hanya setipis kulit yang menyelimuti biji kurma.

Asbabun Nuzul :

Dia juga meriwayatkan dari Masruq, ia berkata : Ketika turun ayat 123, orang-orang ahli kitab berkata : Kalian sama saja dengan kami. Maka turunlah ayat 124 ini.

AN NISA : 125

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا
Terjemah :
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.
Tafsir :
Tidak seorangpun yang lebih baik agamanya daripada seorang yang hati dan anggota tubuhnya tunduk kepada Allah semata, sedangkan dia berbuat baik dalam perkataan dan perbuatannya dan hanya mengikuti perintah Rabbnya. Dia juga mengikuti agama Ibrahim dan syariatnya, condong menjauhi aqidah-aqidah yang rusak dan syariat-syariat yang batil. Allah telah memilih Ibrahim alaihisslam dan mengangkatnya sebagai Khalil di antara makhluk-Nya. Ayat ini menetapkan sifat khullah bagi Allah yang merupakan derajat tertinggi dari kecintaan dan pemilihan.

AN NISA : 126

وَللّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَانَ اللّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيطًا
Terjemah :
Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.
Tafsir :
Seluruh makhluk yang ada di alam raya ini adalah milik Allah, semuanya adalah milik-Nya semata. Allah Maha Meliputi segala sesuatu, tidak ada perkara makhluk yang samar bagi-Nya.

AN NISA : 127

وَيَسْتَفْتُونَكَ فِي النِّسَاء قُلِ اللّهُ يُفْتِيكُمْ فِيهِنَّ وَمَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ فِي يَتَامَى النِّسَاء الَّلاتِي لاَ تُؤْتُونَهُنَّ مَا كُتِبَ لَهُنَّ وَتَرْغَبُونَ أَن تَنكِحُوهُنَّ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْوِلْدَانِ وَأَن تَقُومُواْ لِلْيَتَامَى بِالْقِسْطِ وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ بِهِ عَلِيمًا
Terjemah :
Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah : Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran [354] (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa [355] yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka [356] dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.
________________________________________
[354] Lihat ayat 2 dan 3 Surat An Nisaa
[355] Maksudnya ialah : pusaka dan maskawin.
[356] Menurut adat Arab Jahiliyah seorang wali berkuasa atas wanita yatim yang dalam asuhannya dan berkuasa akan hartanya. Jika wanita yatim itu cantik dikawini dan diambil hartanya. Jika wanita itu buruk rupanya, dihalanginya kawin dengan laki-laki yang lain supaya dia tetap dapat menguasai hartanya. Kebiasaan di atas dilarang melakukannya oleh ayat ini.
Tafsir :
Orang-orang meminta kepadamu wahai Nabi agar kamu menjelaskan perkara-perkara dan hukum-hukum tentang wanita yang sulit untuk mereka pahami. Katakanlah, Allah yang akan menjelaskan perkara mereka kepada kalian. Apa yang dibacakan kepada kalian dalam al-Kitab tentang anak-anak yatim wanita yang tidak kalian beri mahar dan warisan yang telah Allah tetapkan untuk mereka dan hak-ahak mereka lainnya, sedangkan kalian berhasrat untuk menikahi mereka atau tidak berhasrat. Dan Allah menjelaskan kepada kalian perkara anak-anak kecil yang lemah, kewajiban menunaikan tanggung jawab kepada anak-anak yatim, yaitu anak-anak yang ditinggal wafat oleh bapak mereka saat mereka belum berusia baligh dengan adil dan tidak menzhalimi hak-hak mereka. Kebaikan apa pun yang kalian lakukan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, tidak ada sesuatu pun kebaikan maupun kejahatan yang samar bagi Allah.

Asbabun Nuzul :

Al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah tentang ayat ini, ia berkata : Maksud ayat ini adalah seorang laki-laki yang memiliki anak yatim perempuan, dia sebagai walinya dan pewarisnya. Anak yatim itu mengikutsertakan wali tersebut pada hartanya sampai dalam perkara kurma. Laki-laki itu ingin menikahinya dan tidak ingin menikahkannya dengan orang lain sehingga harta yatim tersebut ikut dinikmati pula oleh orang lain, kemudian walinya menghalang-halanginya, maka turunlah ayat 127 ini.

AN NISA : 128

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلاَ جُنَاْحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِن تُحْسِنُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Terjemah :
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz [357] atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya [358], dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir [359]. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
________________________________________
[357] Lihat arti nusyuz dalam not 291. Nusyuz dari pihak suami ialah bersikap keras terhadap isterinya; tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberikan haknya.
[358] Seperti isteri bersedia beberapa haknya dikurangi asal suaminya mau baik kembali.
[359] Maksudnya : tabiat manusia itu tidak mau melepaskan sebahagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya, kendatipun demikian jika isteri melepaskan sebahagian hak-haknya, maka boleh suami menerimanya.
Tafsir :
Bila seorang istri mengetahui suaminya merasa lebih tinggi darinya atau berpaling darinya, maka tidak ada dosa atas mereka berdua untuk berdamai dengan dasar kerelaan keduanya terkait dengan pembagian jatah bermalam dan nafkah. Berdamai itu lebih baik dan lebih utama. Jiwa manusia ditabiatkan di atas kekikiran dan kebakhilan, seolah-olah kebakhilan melingkupinya dan tidak bisa terpisah darinya. Bila kalian memperlakukan istri-istri kalian dengan baik dan kalian takut kepada Allah terhadap mereka, maka Allah mengetahui apa yang kamu lakukan terkait dengan hal itu dan hal lainnya, tidak ada sesuatu yang samar bagi Allah dan Dia akan membalas kalian atasnya.

Asbabun Nuzul :

Abu Dawud dan al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Saudah khawatir Rasulullah meninggalkannya di saat dia telah berumur lanjut, lantas ia berkata : Hari giliranku akan aku berikan untuk Aisyah. Maka Allah menurunkan ayat 128 ini. Hadits yang senada juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas.

Said bin Mansur meriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa anak perempuan Muhammad bin Maslamah bersuamikan Rafi bin Khudaij. Rafi membenci sesuatu dari istrinya, mungkin karena dia sudah tua atau karena hal lainnya. Sehingga dia ingin mentalaknya, maka istrinya berkata : Janganlah mentalakku, berikanlah giliranku sesukamu. Maka Allah menurunkan ayat 128 ini.

Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Ayat ini turun : Dan perdamaian itu baik. Kepada seorang laki-laki yang beristri yang telah memberinya beberapa orang anak. Ketika sang suami ingin menggantinya dengan yang baru maka sang istri merayu suaminya agar jangan menceraikannya dan dia boleh tidak memberinya giliran.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Said bin Jubair berkata : Pada saat ayat 128 ini turun, seorang wanita datang seraya berkata : Aku ingin agar kamu membagi nafkahmu kepadaku. Dai rela jika suaminya membiarkannya, tidak mentalaknya namun juga tidak mendatanginya, maka Allah menurunkan : Walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. (Ayat 128)

AN NISA : 129

وَلَن تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِّسَاء وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Terjemah :
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tafsir :
Kalian wahai para suami tidak akan mampu mewujudkan keadilan yang sempurna di antara para istri dalam hal cinta dan kecenderungan hati, sekalipun kalian sudah berusaha dalam hal ini. Maka jangan berpaling dari istri yang kurang kamu cintai sehingga kamu membiarkannya seperti wanita yang tidak bersuami dan tidak pula ditalak, akibatnya kalian akan memikul dosa. Bila kalian memperbaiki amal perbauatan kalian dengan berbuat adil dalam pembagian di antara mereka, dan kalian selalu merasa diawasi oleh Allah dan takut kepada-Nya terhadap mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun kepada hamba-hamba-Nya dan Maha Penyayang kepada mereka.

AN NISA : 130

وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللّهُ كُلاًّ مِّن سَعَتِهِ وَكَانَ اللّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا
Terjemah :
Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.
Tafsir :
Bila terjadi perpisahan antara suami dan istri, maka Allah akan mencukupkan masing-masing dari keduanya dari karunia dan kemurahan-Nya. Karena Allah Mahaluas nikmat dan karunia-Nya. Maha Bijaksana dalam apa yang Dia tetapkan diantara hamba-hamba-Nya.

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*