Tafsir Al-Muyasar Surat An-Nisa 101-110

AN NISA : 101

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُواْ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُواْ لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا
Terjemah :
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar [343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.
________________________________________
[343] Menurut pendapat jumhur arti qashar di sini ialah : sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Meng-qashar di sini ada kalanya dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, yaitu di waktu bepergian dalam keadaan aman dan ada kalanya dengan meringankan rukun- rukun dari yang 2 rakaat itu, yaitu di waktu dalam perjalanan dalam keadaan khauf. Dan ada kalanya lagi meringankan rukun-rukun yang 4 rakaat dalam keadaan khauf di waktu hadhar.
Tafsir :
Bila kalian wahai orang-orang Mukmin melakukan perjalanan di bumi Allah, maka tidak ada dosa atas kalian untuk meringkas shalat bila kalian takut terhadap pelanggaran orang-orang kafir atas kalian, saat kalian mengerjakan shalat. Secara umum perjalanan orang-orang Muslim di awal Islam menakutkan, sementara qashar adalah rukhshah (keringanan) dalam perjalanan, baik dalam keadaan aman maupun takut. Sesungguhnya orang-orang-orang kafir selalu memusuhi kalian dengan terang-terangan, maka waspadailah mereka.

AN NISA : 102

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلْيَكُونُواْ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّواْ فَلْيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُواْ أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُواْ حِذْرَكُمْ إِنَّ اللّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا
Terjemah :
Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat) [344], maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu [345], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu [346].
________________________________________
[344] Menurut jumhur mufassirin bila telah selesai serakaat, maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan Nabi duduk menunggu golongan yang kedua.
[345] Yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama Nabi.
[346] Cara sembahyang khauf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, maka sembahyang itu dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja.
Tafsir :
Bila kamu wahai Nabi sedang berada di medan perang dan kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaknya sekelompok orang berdiri bersamamu untuk mendirikan shalat sedangkan kelompok yang lain menyiapkan senjata mereka. Bila kelompok pertama sujud, maka hendaknya kelompok kedua dibelakang kalian dalam keadaan bersiap siaga menghadapi musuh. Kelompok pertama menyempurnakan rakaat mereka yang kedua lalu mereka salam, kemudian kelompok kedua yang belum memulai shalat datang untuk bermakmum kepadamu di rakaat mereka yang pertama. Kemudian mereka menyempurnakan sendiri rakaat mereka yang kedua. Hendaknya mereka tetap waspada kepada musuh mereka dan menyiapkan senjata mereka. Orang-orang yang mengingkari agama Allah itu ingin kalian lengah dari senjata dan perbekalan kalian sehingga mereka bisa menyerang kalian secara tiba-tiba dan menghabisi kalian. Tidak ada dosa atas kalian saat itu bila kalian mendapatkan gangguan berupa hujan atau kalian dalam keadaan sakit untuk meninggalkan senjata-senjata kalian dengan tetap disertai kewaspadaan. Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi orang-orang yang mengingkari agama-Nya siksa yang menghinakan dan merendahkan mereka.

Asbabun Nuzul :

Ahmad, al-Hakim meriwayatkan dan dia menshahihkannya, juga al-Baihaqi dalam ad-Dalail dari Abu Ayyasy az-Zuraqi, ia berkata : Kami bersama Rasulullah صلی الله عليه وسلم di Usfan, kami menghadapi orang-orang musyrik yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid. Mereka berada diantara kami dengan kiblat. Ketika Nabi صلی الله عليه وسلم sedang shalat zhuhur bersama kami, mereka berkata : Mereka sedang dalam keadaan lengah, mari kita serang mereka. Kemudian mereka berkata : Sekarang mereka sedang didatangi oleh shalat yang lebih mereka cintai daripada anak-anak mereka dan diri mereka sendiri. Maka Jibril turun dengan ayat 102 ini di antara Zhuhur dan Ashar (al-Hadits). At-Tirmidzi meriwayatkan senada dengannya dari Abu Hurairah. Ibnu Jarir meriwayatkan senada dari Jabir bin Abdullah dan Ibnu Abbas.

Al-Bukahri meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata : Ayat 102 ini turun kepada Abdurrahman bin Auf ketika dia terluka.

AN NISA : 103

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
Terjemah :
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Tafsir :
Bila kalian telah menunaikan shalat, maka teruslah berdzikir kepada Allah dalam segala keadaan kalian. Bila ketakutan itu telah lenyap, maka laksanakanlah shalat secara sempurna, jangan melalaikannya karena ia merupakan kewajiban di waktu-waktu yang telah ditentukan oleh syara.

AN NISA : 104

وَلاَ تَهِنُواْ فِي ابْتِغَاء الْقَوْمِ إِن تَكُونُواْ تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللّهِ مَا لاَ يَرْجُونَ وَكَانَ اللّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Terjemah :
Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Tafsir :
Jangan melempem dalam mengejar dan memerangi musuh kalian. Bila kalian merasa sakit karena peperangan dan akibatnya, maka para musuh kalian juga merasakan sakit bahkan lebih sakit. Sekalipun demikian mereka tidak akan pernah berhenti memerangi kalian, maka semsetinya kalian lebih patut berbuat demikian daripada mereka, karena kalian berharap kemenangan, dukungan dan pahala dari Allah, sementara mereka tidak mengharapkan hal itu. Allah Maha Mengetahui segala keadaan kalian, Bijaksana dalam perintah dan pengaturan-Nya.

AN NISA : 105

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيمًا
Terjemah :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat [347],
________________________________________
[347] Ayat ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thumah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thumah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. Hal ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thumah kepada Nabi r dan mereka meminta agar Nabi membela Thumah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thumah, Nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thumah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.
Tafsir :
Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu wahai Rasul al-Qur an yang berisi kebenaran, agar kamu memisahkan di antara manusia semuanya dengan apa yang Allah telah wahyukan kepadamu dan beritahukan kepadamu. Maka jangan membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri dengan menyembunyikan kebenaran, hanya karena apa yang mereka perlihatkan berupa kata-kata yang menyimpang dari kebenaran kepadamu.

Asbabun Nuzul :

At-Tirmidzi, al-Hakim dan lainnya meriwayatkan dari Qatadah bin an-Nu man, ia berkata : Ada satu keluarga dari kami yang dikenal dengan nama Bani Ubairiq, Bisyr, Basyir dan Mubassyir. Basyir adalah orang munafik, dia sering mengucapkan syair yang menghina sahabat-sahabat Rasulullah صلی الله عليه وسلم, kemudian dia diikuti oleh sebagian orang Arab yang lain. Dia berkata : Fulan berkata begini dan begini…. Bisyr atau Basyir berasal dari Bani Ubairiq. Mereka berasal dari keluarga miskin yang membutuhkan uluran tangan pada masa jahiliyah dan pada masa Islam. Makanan pokok orang-orang di Madinah adalah gandum dan kurma. Lalu pamanku, Rifaah bin Zaid, membeli sekarung tepung gandum dari Adramak (Syria). Ia meletakkannya di sebuah gudang tempat menyimpan air bersama senjata, baju besi dan pedang. Barang-barang tersebut dicuri orang dari bawah dengan cara melubangi gudang, termasuk makanan dan senjata juga diambil. Di pagi harinya pamanku datang kepadaku seraya berkata : Wahai keponakanku, kami telah kemalingan dimalam ini, gudang kita dibobol, makanan dan senjata kita diambil.

Maka kami pun meneliti disekitar rumah. Kami bertanya kepada seseorang dan ada yang menjawab : Kami melihat Bani Ubairiq pada malam ini menyalakan api dan kami melihat pada mereka sebagian dari makanan dan barang-barang kalian. Bani Ubairiq berkata : Dan kami bertanya kepada orang di sekitar rumah dan mereka menjawab : Demi Allah kami tidak melihat kawan kalian selain Labid bin Sahal. Padahal ia adalah seorang laki-laki dari kami yang shalih lagi muslim. Ketika Labid mendengar, ia langsung menghunus pedangnya seraya berkata : Aku mencuri? Demi Allah pedang ini akan menebasmu atau kamu harus bisa membuktikan pencurian ini. Mereka berkata : Menjauhlah dari kami wahai laki-laki, karena bukan kamu orangnya. Lalu kami bertanya disekitar rumah sehingga kami tidak meragukan bahwa mereka-lah orang-orangnya. Pamanku berkata kepadaku : Datanglah kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم, sampaikan hal ini kepada beliau.

Aku datang kepada Rasululllah صلی الله عليه وسلم. Aku berkata : Ada satu keluarga dari kami, mereka adalah orang-orang yang kurang ajar, mereka membobol gudang pamanku dan mengambil senjata dan makannnya. Kami berharap agar mereka mengembalikan senjata kami. Adapun makanan yang ada didalamnya maka kami sudah tidak membutuhkannya. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda : Aku akan menelitinya. Ketika Bani Ubairiq mendengar itu, mereka mendatangi seorang laki-laki dari mereka yang bernama Usair bin Urwah. Mereka berbicara kepadanya tentang hal itu, maka beberapa orang dari penduduk kampung berkumpul karena masalah ini. Mereka berkata : Ya Rasulullah, Qatadah bin an-Numan dan pamannya menuduh satu keluarga dari kami dengan pencurian, padahal mereka adalah orang-orang Islam yang baik. Tuduhan tersebut tanpa bukti dan saksi. Qatadah berkata : Aku datang kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم, beliau bersabda : Kamu menuduh satu keluarga darimu dengan pencurian tanpa bukti padahal mereka adalah orang-orang Islam dan orang-orang baik? Maka aku pun pulang dan menyampaikan itu kepada pamanku, dia berkata : Semoga Allah menolong. Tidak lama berselang turunlah ayat 105-113 ini.

AN NISA : 106

وَاسْتَغْفِرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Terjemah :
dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tafsir :
Mintalah ampunan kepada Allah dalam segala keadaanmu. Karena Allah Maha Pengampun bagi siapa yang berharap karunia-Nya dan anugerah ampunan-Nya sekaligus Maha Penyayang kepada mereka.

AN NISA : 107

وَلاَ تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنفُسَهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِيمً
Terjemah :
Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,
Tafsir :
Jangan membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka dengan kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai siapa yang khianatnya besar dan dosa-dosanya banyak.

AN NISA : 108

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلاَ يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لاَ يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا
Terjemah :
mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.
Tafsir :
Mereka bersembunyi dari manusia kerena takut mereka akan mengetahui perbuatan buruk mereka. Namun mereka tidak bisa bersembunyi dari Allah dan tidak takut kepada-Nya padahal Dia selalu bersama mereka dengan ilmu-Nya, mengetahui mereka saat dimalam hari mereka menyusun kata-kata yang tidak diridhai-Nya. Allah meliputi seluruh perkataan dan perbuatan mereka, tidak ada sesuatupun yang samar bagi-Nya.

AN NISA : 109

هَاأَنتُمْ هَـؤُلاء جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَن يُجَادِلُ اللّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَم مَّن يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلاً
Terjemah :
Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat ? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah) ?
Tafsir :
Kalian wahai orang-orang Mukmin telah membela para pengkhianat itu dalam kehidupan dunia ini, lalu siapa yang akan membela mereka di depan Allah di hari kebangkitan dan hisab? Siapa yang akan menjadi pembela bagi para pengkhianat tersebut di Hari Kiamat?

AN NISA : 110

وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Terjemah :
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tafsir :
Barangsiapa yang melakukan perbuatan buruk lagi jahat atau menzhalimi dirinya sendiri dengan melakukan perbuatan yang menyelisihi syariat dan hukum Allah, kemudian dia kembali kepada Allah dengan penyesalan atas apa yang dilakukannya, berharap ampunan dari-Nya dan ditutupinya dosanya, niscaya dia mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*