Tafsir Al-Muyasar Surat An-Nisa 1-10

AN NISA : 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

*Terjemah :*
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya [263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain [264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
________________________________________
[263] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam u berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. Di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yani tanah yang dari padanya Adam u diciptakan.
[264] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

*Tafsir :*
Wahai manusia takutlah kalian kepada Allah, peganglah perintah-perintah-Nya dan jauhilah larangan-larangan-Nya. Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu yaitu Adam dan darinya Dia menciptakan pasangannya yaitu Hawa. Dan dari keduanya Dia menyebarkan kaum laki-laki dan wanita dalam jumlah yang sangat banyak di bumi. Hendaklah kalian merasa diawasi oleh Allah di mana sebagian dari kalian meminta kepada sebagian yang lain dengan nama-Nya, dan berhati-hatilah sehingga kalian tidak memutus hubungan rahim kalian. Sesungguhnya Allah mengawasi segala keadaaan kalian.

AN NISA : 2

وَآتُواْ الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَ تَتَبَدَّلُواْ الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا
Terjemah :
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
Tafsir :
Berikanlah kepada anak-anak yang ditinggal mati oleh ayah mereka sementara usia mereka belum baligh ?sedangkan kalian adalah wali-wali bagi mereka- harta mereka bila mereka telah mencapai usia baligh, dan kalian sudah melihat pada diri mereka kemampuan untuk menjaga harta mereka. Jangan mengambil yang baik dari harta mereka dan menggantinya dengan yang buruk dari harta kalian, dan jangan juga kalian campur harta mereka dengan harta kalian agar dengan itu kalian bisa memakan harta mereka. Barangsiapa yang berani melakukan hal itu maka dia telah melakukan dosa besar.

AN NISA : 3

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ
Terjemah :
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil [265], maka (kawinilah) seorang saja [266], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
________________________________________
[265] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.
[266] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad r Ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.
Tafsir :
Bila kalian khawatir tidak bisa berbuat adil kepada anak-anak yatim wanita yang berada dalam tanggungan kalian, dengan tidak memberikan mahar mereka seperti wanita-wanita lainnya, maka tinggalkanlah mereka dan menikahlah dengan wanita-wanita lain yang kalian sukai, dua, tiga, atau empat. Bila kalian khawatir tidak bisa berbuat adil kepada mereka, maka cukup dengan satu saja atau melakukan akad milkul yamin dengan hamba sahayamu. Apa yang Dia syariatkan bagi kalian terkait dengan anak-anak yatim wanita, menikah dengan satu sampai empat orang wanita, atau hanya satu orang wanita saja atau milkul yamin adalah lebih dekat kepada keadilan dan kebaikan.

AN NISA : 4

وَآتُواْ النَّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا
Terjemah :
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan[267]. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.
________________________________________
[267] Pemberian itu ialah maskawin yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua pihak, karena pemberian itu harus dilakukan dengan ikhlas.
Tafsir :
Berikanlah wahai para suami mahar kepada para istri sebagai pemberian wajib lagi pasti yang harus dari kerelaan jiwa kalian. Bila para istri itu merelakan sebagian dari mahar lalu dia memberikannya lagi kepada kalian, maka ambillah dan silahkan Anda menggunakannya karena ia adalah halal lagi baik.

Asbabun Nuzul :

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Abu Shalih, ia berkata : Apabila seorang laki-laki menikahkan putrinya maka dia mengambil maharnya tanpa memberikannya kepada putrinya tersebut, lalu Allah melarang hal itu, maka Dia menurukan ayat 4 ini.

AN NISA : 5

وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا
Terjemah :
Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya [268], harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.
________________________________________
[268] Orang yang belum sempurna akalnya ialah anak yatim yang belum balig atau orang dewasa yang tidak dapat mengatur harta bendanya.
Tafsir :
Jangan berikan wahai para wali kepada siapa pun yang menghambur-hamburkan harta, baik dia laki-laki atau wanita atau anak-anak, sekalipun harta tersebut adalah harta mereka sendiri yang berada dalam tanggung jawabmu, akibatnya mereka akan meletakkannya bukan pada tempatnya. Padahal harta tersebut merupakan pondasi tegaknya kehidupan manusia. Nafkahilah mereka darinya dan berilah mereka pakaian, ucapkan kepada mereka kata-kata yang baik lagi menentramkan dan berdasar kepada budi pekerti yang luhur.

AN NISA : 6

وَابْتَلُواْ الْيَتَامَى حَتَّىَ إِذَا بَلَغُواْ النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُواْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَ تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُواْ وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُواْ عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللّهِ حَسِيبًا
Terjemah :
Dan ujilah [269] anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).
________________________________________
[269] Yakni : mengadakan penyelidikan terhadap mereka tentang keagamaan, usaha-usaha mereka, kelakuan dan lain-lain sampai diketahui bahwa anak itu dapat dipercayai.
Tafsir :
Ujilah anak-anak yatim yang berada dalam tanggung jawabmu untuk mengetahui kemampuan mereka dalam mengurusi harta mereka dengan baik, sampai mereka mencapai usia baligh, dan kalian mengetahui keshalihan mereka dalam agama dan kemampuan mereka dalam menjaga harta mereka. Maka serahkanlah harta itu kepada mereka, jangan melakukan pelanggaran terhadapnya dengan membelanjakannya bukan pada tempat yang semestinya dengan boros dan cepat-cepat memakannya sebelum anak-anak yatim itu mengambilnya dari kalian. Barangsiapa memiliki harta diantara kalian maka hendaknya dia menahan diri dengan harta kekayaannya dengan tidak mengambil harta anak yatim sedikitpun. Namun barangsiapa yang miskin maka silahkan mengambil secukup kebutuhannya saat diperlukan. Bila kalian tahu bahwa kalian mampu menjaga harta mereka setelah mereka baligh dan kalian menyerahkannya kepada mereka, maka persaksikanlah atas mereka demi menjamin tersampaikannya hak kepada mereka secara utuh, agar mereka tidak mengingkarinya. Cukuplah bagi kalian bahwa Allah adalah saksi atas kalian dan akan menghisab perbuatan-perbuatan kalian.

AN NISA : 7

لِّلرِّجَالِ نَصيِبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا
Terjemah :
Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.
Tafsir :
Bagi laki-laki, kecil atau dewasa, mendapatkan bagian yang Allah tetapkan dari apa yang ditinggalkan oleh bapak ibu atau kerabat berupa harta, sedikit atau banyak dalam bagian-bagian yang sudah ditentukan dengan jelas yang Allah wajibkan untuk mereka, untuk wanita juga sama.

Asbabun Nuzul :

Abusy Syaikh dan Ibnu Hayyan meriwayatkan dalam kitab al-Faraaidh dari jalan al-Kalbi dari Abu Shalih dari Ibnu Abbas, ia berkata : Orang-orang jahiliyah tidak mewariskan kepada anak-anak perempuan dan anak laki-laki mereka yang masih kecil sehingga mereka dewasa. Seorang laki-laki Anshar bernama Away bin Tsabit meninggal dunia, dia meninggalkan dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang masih kecil. Lalu dua orang sepupunya yang sekaligus ashobahnya Khalid dan Arfathah mengambil seluruh hartanya, maka istrinya pun datang kepada Nabiصلی الله عليه وسلم dan menyampaikan hal itu kepada beliau. Beliau صلی الله عليه وسلم bersabda : Aku Tidak tahu harus berkata apa. Maka turunlah ayat ke 7 ini.

AN NISA : 8

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُواْ الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُواْ لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا
Terjemah :
Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat [270], anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu [271] (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.
________________________________________
[270] Kerabat di sini maksudnya : kerabat yang tidak mempunyai hak warisan dari harta benda pusaka.
[271] Pemberian sekedarnya itu tidak boleh lebih dari sepertiga harta warisan.
Tafsir :
Bila pembagian warisan dihadiri oleh kerabat-kerabat mayyit yang tidak mendapatkan warisan, atau anak-anak yatim yang ditinggal wafat bapaknya sebelum mereka mencapai usia baligh, atau orang-orang miskin yang tidak mempunyai harta yang mencukupi dan yang bisa menutupi hajat kebutuhan mereka, maka berilah mereka sebagian dari harta sebagai sebuah anjuran sebelum harta tersebut dibagi-bagi kepada yang berhak menerimanya. Ucapkanlah kepada mereka ucapan yang baik bukan ucapan yang kotor lagi buruk.

AN NISA : 9

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيدًا
Terjemah :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.
Tafsir :
Orang-orang yang seandainya mereka mati dan meninggalkan anak-anak kecil lagi lemah sesudah mereka hendaknya takut dan khawatir mereka akan dizhalimi dan disia-siakan. Maka hendaknya mereka bertakwa kepada Allah terhadap anak-anak yatim dan lainnya yang menjadi tanggung jawab mereka. Hal itu dengan menjaga harta mereka, mendidik mereka dengan baik, menepis gangguan dari mereka dan hendaknya mereka mengucapkan kata-kata yang sejalan dengan kebaikan dan keadilan.

AN NISA : 10

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا
Terjemah :
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).
Tafsir :
Sesungguhnya orang-orang yang melanggar harta anak yatim dan mengambilnya tanpa hak, mereka hanya akan memakan api neraka yang menyala-nyala di dalam perut mereka di Hari Kiamat dan mereka akan masuk ke dalam api neraka di mana harus merasakan panasnya yang sangat.

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*