Tafsir Al-Muyasar Surat Al-Baqoroh 211-220

AL BAQARAH : 211

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Terjemah :
Tanyakanlah kepada Bani Israil : Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka. Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.
Tafsir :
Tanyakanlah wahai Rasul kepada Bani Israil yang menentangmu : Berapa banyak Kami memberi mereka ayat-ayat yang jelas dalam kitab-kitab mereka yang membimbing mereka kepada kebenaran, lalu mereka mengingkari semuanya dan berpaling darinya serta menyelewengkannya dari tempat-tempatnya. Barangsiapa mengganti nikmat Allah, yaitu agama-Nya, dan kufur kepadanya setelah dia mengetahui dan tegaknya hujjah atasnya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.

AL BAQARAH : 212

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Terjemah :
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
Tafsir :
Dijadikan indah bagi orang-orang yang mengingkari keesaan Allah kehidupan dunia termasuk syahwat dan kenikmatan di dalamnya, dan mereka memperolok-olok orang-orang mukmin. Padahal orang-orang yang takut kepada Rabb mereka berada di atas orang-orang kafir seluruhnya di Hari Kiamat, di mana Allah memasukkan mereka ke surga dengan derajat yang paling tinggi dan menurunkan orang-orang kafir di derajat terendah dari api Neraka. Allah memberi rizki siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya tanpa perhitungan.

AL BAQARAH : 213

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Terjemah :
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Tafsir :
Manusia adalah umat yang satu, sepakat beriman kepada Allah. Kemudian mereka berselisih dalam agama mereka, maka Allah mengutus para nabi sebagai penyeru kepada agama-Nya, menyampaikan berita gembira kepada siapa yang menaati Allah dengan surga, dan memperingatkan siapa yang kafir kepada Allah dan mendurhakai-Nya dengan neraka, menurunkan kitab-kitab samawi kepada mereka dengan kebenaran sekaligus mengandung kebenaran, agar mereka menjadikannya sebagai dasar hukum dalam perkara-perkara yang diperselisihkan oleh manusia. Tiada yang berselisih tentang perkara Muhammad dan kitab-Nya secara zhalim dan hasad kecuali orang-orang yang telah Allah beri Taurat, dan mereka telah mengetahui isinya berupa hujjah-hujjah dan hukum-hukum. Maka Allah membimbing orang-orang mukmin dengan karunia-Nya sehingga mereka mampu membedakan yang haq dengan yang batil, mengetahui apa yang mereka perselisihkan. Dan Allah membimbing siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus.

AL BAQARAH : 214

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
Terjemah :
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
Tafsir :
Apakah kalian wahai orang-orang mukmin mengira akan masuk surga padahal kalian belum ditimpa ujian seperti yang telah menimpa orang-orang mukmin sebelum kalian; berupa kemiskinan, penyakit, rasa takut dan kecemasan. Mereka digoncang dengan berbagai bentuk ketakutan, sehingga Rasul mereka dan orang-orang beriman yang bersamanya, -karena mereka menginginkan kemenangan cepat dari Allah-berkata : Kapan akan datang pertolongan Allah? Ingatlah bahwa kemenangan dari Allah itu dekat kepada orang-orang mukmin.

Asababun Nuzul :

Abdur Razzaq berkata : Ma mar mengabarkan kepada kami dari Qatadah, ia berkata ; Ayat ini turun pada hari Ahzab, Nabi dan para sahabat pada hari itu ditimpa ujian dan pengepungan dari musuh.

AL BAQARAH : 215

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Terjemah :
Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah : Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.
Tafsir :
Sahabat-sahabatmu wahai Nabi bertanya kepadamu apa yang mereka infakkan dari berbagai bentuk harta yang mereka miliki demi mendapatkan diri mereka kepada Allah dan kepada siapa mereka harus berinfak? Katakanlah kepada mereka : Infakkanlah kebaikan apa pun yang mudah bagi kalian dari berbagai bentuk harta benda yang halal lagi baik. Letakkanlah apa yang kalian nafkahkan kepada bapak ibu orang-orang terdekat dari keluarga kalian dan sanak kerabat kalian, anak-anak yatim yang ditinggal wafat bapak mereka saat mereka belum berusia baligh, orang-orang yang membutuhkan yang tidak memiliki apa yang bisa mencukupi mereka dan menutup hajat mereka, musafir yang membutuhkan yang jauh dari harta dan keluarga. Kebaikan apa pun yang kalian lakukan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Asbabun Nuzul :

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata : Orang-orang mukmin bertanya kepada Rasulullah di mana mereka meletakkan harta mereka, maka ayat 215 inipun turun.

Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Abu Hayyan bahwa Amru bin al-Jamuh bertanya kepada Nabi : Harta apa yang kami infakkan? Dan di mana kami menempatkannya? Maka ayat ini pun turun.

AL BAQARAH : 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Terjemah :
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Tafsir :
Allah mewajibkan atas kalian wahai orang-orang mukmin berperang melawan orang-orang kafir, sekalipun tabiat kalian tidak menyukai berperang, karena ia memang berat dan banyak mengakibatkan bahaya atas kalian. Ingatlah terkadang kalian membenci sesuatu padahal hakikat sebenarnya ia adalah baik bagi kalian, dan terkadang kalian mencintai sesuatu karena ia tidak perlu berlelah-lelah dan mengandung kenikmatan sesaat, padahal sebenarnya ia buruk bagi kalian. Allah mengetahui apa yang baik bagi kalian sementara kalian tidak mengetahui hal itu, maka bersegeralah berangkat untuk berjihad di jalan-Nya.

AL BAQARAH : 217

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Terjemah :
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
Tafsir :
Orang-orang musyrikin bertanya kepadamu wahai Rasul tentang bulan haram, apakah berperang padanya dibolehkan? Katakan kepada mereka : Berperang di bulan haram dengan menumpahkan darah padanya adalah dosa besar di sisi Allah. Namun sikap kalian yang menghalang-halangi manusia untuk masuk Islam dengan menyiksa dan menakut-nakuti mereka, pengingkaran kalian kepada Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya, pelarangan yang kalian berlakukan terhadap kaum muslimin sehingga mereka gagal untuk masuk ke Masjidil Haram, pengusiran kalian terhadap Nabi dan orang-orang mukmin darinya, padahal mereka adalah keluarganya sendiridan orang-orang yang menolongnya, semua ini jauh lebih besar dosanya dan lebih sangat kejahatannya di sisi Allah daripada berperang di bulan Haram. Orang-orang kafir tersebut tidak jera dari kejahatan-kejahatan mereka. Sebaliknya akan terus memerangi kalian sehingga mereka mengembalikan kalian dari agama kalian, Islam, kepada kekufuran bila mereka mampu melakukan hal itu. Barangsiapa yang menaati mereka di antara kalain wahai kaum muslimin dan dia murtad dari agamanya lalu dia mati di atas kekufuran, maka amal perbuatannya akan lenyap di dunia dan di akhirat, dia akan menjadi penduduk Neraka Jahanam untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah keluar darinya.

Asbabun Nuzul :

Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim, ath-Thabrani dalam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Sunannya dari Jundub bin Abdullah bahwa Rasulullah mengutus beberapa orang pasukan dengan dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy, lalu mereka membunuh Ibnul Hadrami dan mereka tidak menyadari bahwa hal itu terjadi di bulan Rajab atau Jumadats Tsaniyah, maka orang-orang musyrikin berkata kepada orang-orang mukmin : Kalian telah membunuh di bulan Haram. Maka Allah menurunkan ayat 217 ini.

AL BAQARAH : 218

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Terjemah :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tafsir :
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mengamalkan syariat-Nya, dan orang-orang yang meninggalkan negeri mereka dan berjihad di jalan Allah, mereka adalah orang-orang yang berharap pahala dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Pengampun bagi dosa-dosa hamba-Nya yang beriman, Maha Penyayang kepada mereka dengan rahmat yang luas.

Asbabun Nuzul :

Sebagian dari mereka ada yang berkata : Jiika mereka tidak memikul dosa maka mereka tidak akan memperoleh pahala. Maka Allah menurunkan ayat 218 ini.

AL BAQARAH : 219

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Terjemah :
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah : Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah : Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,
Tafsir :
Kaum muslimin bertanya kepadamu wahai Nabi tentang hukum bermuamalat dengan khamar, meminumnya, menjual dan membelinya. Khamar adalah semua yang memabukkan yang menutup akal dan menghalangi kerjanya, baik dalam bentuk minuman maupun makanan. Mereka juga bertanya kepadamu tentang hukum judi, -yaitu memberikan dan menerima harta sebagai taruhan menang atau kalah di antara dua pihak- katakan kepada mereka : Semua itu mengandung mudharat-mudharat dan kerusakan-kerusakan di dunia dan di akhirat, akal dan harta, namun di sisi lain ia mempunyai manfaat bagi manusia dalam bentuk keuntungan materi dan lainnya. Tapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya. Karena keduanya menghalangi dzikir kepada Allah dan shalat, menanamkan permusuhan dan kebencian di antara manusia dan menghabiskan harta. Ayat ini merupakan mukadimah bagi pengharaman keduanya. Mereka juga bertanya kepadamu tentang kadar harta mereka yang akan mereka infakkan sebagai sedekah secara suka rela. Katakan kepada mereka : Nafkahkanlah kadar yang lebih dari kebutuhan kalian. Dengan keterangan yang jelas seperti ini Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat-Nya dan hukum-hukum syariat-Nya, agar kalian merenungkan apa yang bermanfaat bagi kalian di dunia dan di akhirat.

Asbabun Nuzul :

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari jalan Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa beberapa orang sahabat ketika diperintahkan untuk berinfak datang kepada Nabi, mereka bertanya : Kami tidak mengetahui nafkah apa yang diperintahkan kepada kami agar kami mengeluarkannya dari harta kami, apa yang harus kami nafkahkan darinya? Maka Allah menurunkan ayat 219 ini.

AL BAQARAH : 220

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۗ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَىٰ ۖ قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ ۖ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Terjemah :
tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah : Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu ; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Tafsir :
Mereka bertanya kepadamu wahai Nabi tentang anak-anak yatim yang ditinggal wafat oleh bapak mereka saat mereka belum berusia baligh, bagaimana mereka harus bertindak terkait dengan harta dan kehidupan mereka? Katakanlah kepada mereka : Perbaikan kalian terhadap mereka merupakan kebaikan, lakukanlah yang lebih bermanfaat bagi mereka. Bila kalian bergaul dengan mereka dalam segala urusan kehidupan, maka mereka adalah saudara-saudara kalian. Tentunya seorang saudara akan menjaga kemaslahatan saudaranya. Allah mengetahui siapa yang menyia-nyiakan harta anak yatim dan siapa yang berusaha memperbaikinya. Seandainya Allah berkehendak, niscaya Dia akan mempersempit dan menyulitkan kalian dengan melarang kalian bergaul dengan mereka. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa dalam kerajaan-Nya, Bijaksana dalam penciptaan, pengaturan dan peletakan syariat-Nya.

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*