Tafsir Al-Muyasar Surat Al-Anbiyaa’ 31-35

AL-ANBIYAA’ : 31-

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

TERJEMAH :

Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk.

TAFSIR :

Kami telah menciptakan gunung-gunung di bumi untuk mengokohkannya hingga tidak bergoncang. Dan Kami jadikan jalan-jalan yang luas di permukaannya, dengan harapan manusia dapat tertunjukkan kepada penghidupan mereka, dan mentauhidkan Pencipta mereka.

AL-ANBIYAA’ : 32-

وَجَعَلْنَا السَّمَاء سَقْفًا مَّحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ

TERJEMAH :

Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara [960], sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.

[960] Maksudnya: yang ada di langit itu sebagai atap dan yang dimaksud dengan “terpelihara” ialah segala yang berada di langit itu dijaga oleh Allah dengan peraturan dan hukum-hukum yang menyebabkan dapat berjalannya dengan teratur dan tertib.

TAFSIR :

Kami jadikan langit sebagai atap bagi bumi yang tidak ditinggikan dengan tiang-tiang, dan ia terpelihara, tidak runtuh, dan tidak bias ditembus oleh setan. Sedangkan orang-orang kafir itu lalai dari memperhatikan tanda-tanda langit (matahari,bulan,dan bintang), lagi lalai dan lengah dari memikirkannya.

AL-ANBIYAA’ : 33-

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

TERJEMAH :

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.

TAFSIR :

Allah-lah yang telah menciptakan malam, agar manusia merasa tentram di dalamnya, dan menciptakan siang, agar mereka mencari penghidupan pada waktu itu. Dia menciptakan matahari sebagai tanda siang, dan menciptakan bulan sebagai tanda malam. Masing-masing dari keduanya memiliki tempat peredaran di mana ia beredar dan berjalan tanpa pernah menyimpang darinya.

AL-ANBIYAA’ : 34-

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

TERJEMAH :

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?

TAFSIR :

Kami tidak pernah menjadikan seorang pun sebelummu, wahai Rasul, mendapatkan hidup kekal di bumi. Apabila kamu mati, maka apakah mereka akan berharap kekal sesudahmu?? Ini tidak mungkin terjadi. Ayat ini berisikan dalil bahwa Khidhir itu sudah mati, karena dia adalah manusia biasa.

AL-ANBIYAA’ : 35-

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

TERJEMAH :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

TAFSIR :

Tiap-tiap jiwa sudah pasti akan merasakan mati, meskipun ia diberi umur panjang di dunia. Keberadaannya dalam kehidupan ini hanyalah ujian dengan taklif, baik dengan perintah maupun larangan, dan keadaan yang berubah-ubah, baik kebaikan maupun keburukan, kemudian tempat kembalinya sete;ah itu ialah kepada Allah semata untuk dihisab dan diberi basalan.

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*