Seandainya Aku…. ?

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Orang beriman ada yang kuat ada yang lemah imannya
Ada yang kaya dan yang miskin
Itulah posisi kita..
Kadang dihadapan seseorang terasa iman kita lemah dibanding imannya…
Atau mungkin hadir dalam hati kita merasa iman kita lebih kuat darinya?…
Dalam masalah dunia juga seperti itu…

Apapun perasaan kita maka tetaplah memperkuat iman karena hal itu sangat Allah Ta’alaa cintai…
Memperkuat kedudukan di dunia agar kuat ekonomi dan lainnya juga diperintahkan dalam Islam asal caranya halal dan thayyiban..

Silahkan baca baik-baik hadits di bawah ini

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ ، اِحْـرِصْ عَـلَـى مَا يَـنْـفَـعُـكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَـعْجَـزْ ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَـيْءٌ فَـلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِـّيْ فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَـذَا ، وَلَـكِنْ قُلْ: قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَـفْـتَـحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

(Muslim,Ahmad,Ibnu Mâjah,an-Nasâ-i dll Dishahihkan oleh Syaikh al-Bani rahimahullah)

Penjelasan Hadits

1. (Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan). Setiap pelaku maksiat misalnya pencuri atau lainnya jika ditanya diantara mereka akan menjawab “iya iman saya lagi lemah dan keperluan yang mendesak dst…” dari contoh ini kita bisa golongkan keadaan kita yang berbeda beda

1.1 Iman Kuat Dunia Kuat. Ini sempurna…banyak kebaikan yang dapat dilakukan dengan taufik dari Allah Ta’alaa

1.2 Iman Kuat Dunia Lemah. Orang ini walau susah hidupnya dia tidak akan bermudah mudah untuk maksiat, mencuri, menjual diri, korupsi dll…

1.3.Iman Lemah Duna Kuat. Cenderung dunianya hanya untuk kepuasan sesaat, karena kekayaannya, kesehatannya dll tidak di iringi dengan iman yang kuat..yang membawanya pada kebaikan akhiratnya..bahkan karena imannya yang lemah dia merasa tidak cukup dunianya sehingga mengejar terus dan berusaha mendapatkan sebanyak banyaknya dunia ini…kadang dengan jalan apa saja halal haram …tidak peduli lagi…

1.4.Iman Lemah Dunia Lemah. Imannya tidak dapat membahagiakannya, dunianya membuat dia sengsara.Sudah hidup miskin, shalatnya asal asalan bahkan suka meninggalkannya…dunianya tidak jelas akhiratnya tidak jelas…
Naudzubillahi mindzaalik.

2.(dan pada keduanya ada kebaikan). Saya kutipkan saja penjelasan ini

Dalam penggalan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Pada keduanya ada kebaikan.” ada faedah berharga, yaitu barangsiapa lebih mengutamakan seseorang atau amalan dengan yang lainnya, hendaknya dia menyebutkan sisi pengutamaannya serta berusaha menyebutkan keutamaan yang dimiliki ol8eh al-fâdhil (yang utama) dan al-mafdhûl (yang diutamakan atasnya), agar al-mafdhûl tidak merasa tercela.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kaum Mukmin itu berbeda-beda dalam kebaikan, kecintaannya kepada Allâh dan berbeda-beda derajatnya. Seperti dalam firman Allâh Azza wa Jalla :
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا
Dan setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan [al-Ahqâf/46:19]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman :

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzhalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allâh. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. [Fâthir/35:32]

Dalam ayat di atas, Allâh Azza wa Jalla membagi orang Mukmin menjadi tiga bagian :

Pertama, as-Sâbiqûna bil khairât (Golongan yang senantiasa bergegas melakukan kebaikan). Mereka ini melakukan yang wajib dan yang sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh, menyempurnakan amalan-amalan yang dianjurkan. Mereka disebut memiliki sifat yang sempurna.

Kedua, al-Muqtashidûn (Golongan pertengahan). Yaitu mereka yang merasa cukup dengan mengerjakan yang wajib dan meninggalkan perkara-perkara yang haram.

Ketiga, az-Zhâlimûna li anfusihim (Golongan yang menzhalimi diri sendiri). Yaitu mereka yang mencampur-adukkan perbuatan yang baik dengan perbuatan lain yang keji.(hadits dan bagian ini saya kutip dari tulisan Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ الله تَعَالَى di Almanhaj)

3.(Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu)).Kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh, fokus dan serius untuk akhirat dan dunia kita.Walau hasil akhir hanya Allah Ta’alaa yang menentukan. Kita dapat saksikan seseorang yang sudah sedemikan rupa mencari dunia ini usaha bisnis dll tetapi masih hidup dengan miskin karena banyaknya kegagalan maka selain dia harus introspeksi diri atas kegagalannya dia juga harus mencari hikmah mungkin jika dia berhasil akan membahayakan keimanannya…Allah Ta’alaa memberi apa yang terbaik untuk hambaNya..jadi tetaplah berusaha dan bersangka baik kepada Allah Ta’alaa dan bersabar atas taqdirNya dan jangan putus asa dan terus meminta pertolongan siang dan malam kepada Allah Ta’ala, bukan datang ke dukun, peramal dan sejenisnya.

4.( janganlah sekali-kali engkau merasa lemah).Kelemahan adalah kehinanan bagi penyandangya…merasa lemah dihadapan syaithon maka syaithon akan merasa kuat.

5.( Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan).
Syaithon selalu menghujamkan bisikannya pada amal-amal kita, misalnya kita sudah berusaha mencari nafkah dengan berbisnis yang halal laku gagal, maka syaithon akan selalu memberi rasa penyesalan atas apa yang telah kita kerjakan. Atau kita telah memutuskan sesuatu lalu syaithon akan menjadikan kita menyesal akan keputusan itu. Ucapan yang syaithon bisikan adalah kata-kata “seandainya” untuk sesuatu yang telah terjadi…”seandainya saya tidak bisnis dengan mu saya tidak bangkrut..” tapi ucapkan قَـدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَل artinya (Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki)
Dengan ucapan itu hati menjadi tenang dan tidak mudah menyalahkan orang atau diri sendiri..ada semangat untuk bangkit dan bangkit lagi…ada harapan pahala disisi Allah T’alaa dan balasan di akhirat karena boleh jadi dari bisnis anda yang bangkrut itu telah memberi makan bebebrapa keluarga lainnya…atau memeberi kerjaan pada orang lain yang pahalanya tetap mengalir dengan izin Allah Ta’alaa.

Demikian nasehat untuk diri ini semoga bermanfaat untuk kaum muslimin dan muslimat lainnya.

Wallahu a’lam
===
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Akhukum fillah

Abdurrahim Ayyub
===
Sekolah dan Pondok Tahfidz
Ibnu Umar
Ciputat-Pamulang-Cibodas
www.ibnuumar.sch.id⁠⁠[20:55, 3/18/2016] Ar Ust X:

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*