Berbagai Macam Hutang PuasaPENTING!***(Seri Ramadhan 8).

Bismillah

Saudaraku kaum muslimin dan muslimat semoga Rahmat Allah Ta’alaa selalu tercurahkan kepada kita semua.

Aamiin.

Saudaraku kali ini saya pilihkan beberapa permasalahan hutang Shaum (Puasa) dengan penyelesaiannya karena adanya beberapa pertnyaan yang masuk dalam masalah ini.

Silahkan pilih yang paling sesuai dengan permasalahan yang anda sedang hadapi.

1.Seorang Wanita Tidak Membayar Hutang Puasa Ramadhan Sejak Bertahun-tahun Yang Lalu

2.Hukum Mengqadha Puasa Orang Yang Meninggal Dunia Yang Tidak Berpuasa Tanpa Alasan Syar’i

3.Meninggal dan Masih Punya Hutang Puasa

4.Hamil Sebelum Memulai Qadha, Dan Ketika Hamil Tidak Mampu Berpuasa

Anda tidak harus membaca semu kutipan yang panjang ini pilih saja yang paling tepat dengan permasalahan anda atau permasalahan yang anda ingin ketahui. Jika ada waktu silahkan baca semua karena penuh manfaat.

Silahkan diskusikan dengan Ustadz di kajian-kajian yang anda hadiri…

1.Seorang Wanita Tidak Membayar Hutang Puasa Ramadhan Sejak Bertahun-tahun Yang Lalu

Seorang wanita berusia lima puluh tahun, selama hidupnya ia tidak pernah meng-qadha puasa yang ditinggalkannya karena haidh, karena ia tidak tahu bahwa itu wajib. Sekarang ia baru tahu bahwa meng-qadha puasa adalah wajib, maka apa yang harus ia lakukan?

Teks Jawaban

Alhamdulillah
Ia harus meng-qadha puasa-puasa yang ditinggalkannya itu. Lebih baik lagi, jika ia juga memberi makan satu orang miskin untuk setiap puasanya. 
Syaikh Ibn Baz ditanya:
Saya punya saudara perempuan yang selama beberapa tahun tidak pernah membayar puasa yang tidak dilakukannya karena haidh. Hal itu disebabkan ketidaktahuannya terhadap hukum Islam, terlebih lagi sebagian pamannya mengatakan kepadanya bahwa puasa-puasa yang ditinggalkannya itu tidak wajib di-qadha. Apa yang harus ia lakukan? 
Ia menjawab:
Ia harus meminta ampunan dan bertobat kepada Allah ta’ala. Ia harus membayar semua hutang puasanya dan memberi makan satu orang miskin untuk setiap puasanya sebanyak satu sha’ makanan pokok, sebagaimana yang difatwakan sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam. Kewajibannya itu tidak gugur hanya karena ucapan orang-orang yang bodoh. 
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, 
كنا نؤمر بقضاء الصوم ولا نؤمر بقضاء الصلاة
“Kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan kami tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat.” Muttafaq ‘alaih. 
Jika Ramadhan ini datang namun ia belum meng-qadha puasa-puasanya, maka ia berdosa. Wajib baginya meng-qadha puasa-puasanya itu, melakukan tobat, dan, jika ia mampu, memberi makan satu orang miskin untuk setiap puasa yang di-qadha-nya. Jika ia tidak mampu memberi makan orang miskin, cukup baginya qadha dan tobat. Jika ia tidak mengetahui secara persis berapa jumlah puasa yang wajib di-qadhanya, maka ia cukup meng-qadha sejumlah puasa yang diketahuinya saja. Hal ini didasarkan pada firman Allah, 
فاتقوا الله ما استطعتم
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu!” 
Al-Lajanah ad-Daimah pernah ditanya (10/151) tentang wanita tua berusia 60 tahun yang tidak pernah meng-qadha puasanya yang ditinggalkan karena haidh, karena ia tidak mengetahui hukumnya dan karena diberi tahu bibi-bibinya bahwa semua puasa yang ditinggalkannya itu tidak wajib di-qadha. 
Jawabnya:
Ia harus bertobat kepada Allah atas perbuatan itu, karena ia tidak bertanya kepada orang yang berilmu. Ia juga tetap harus meng-qadha semua puasa yang ditinggalkannya itu. Jika tidak tahu secara persis berapa jumlah hutang puasanya, maka ia cukup meng-qadha sejumlah puasa yang diketahuinya. Selain itu, ia juga harus membayar kafarat berupa memberi makan satu orang miskin untuk setiap puasa yang ditinggalkannya dengan setengah sha’ gandung, kurma, beras atau makanan pokok lainnya. Jika ia tidak mampu memberi makan, maka cukup baginya qadha puasa saja. Penjelasan lebih jauh lagi mengenai hukum memberi makan orang miskin, lihat soal-jawab nomor26865.

Islamqa

2.Hukum Mengqadha Puasa Orang Yang Meninggal Dunia Yang Tidak Berpuasa Tanpa Alasan Syar’i

Ayah saya, almarhum, semoga Allah merahmati dan mengampuninya, semasa hidupnya adalah seorang yang rajin shalat dan suka membantu orang-orang yang membutuhkan, baik itu dari keluarga maupun dari yang lainnya. Ia telah melaksanakan haji untuk dirinya dan untuk kedua orangtuanya. Ia meninggal dunia ketika saya masih kecil. Tapi, musibah besar yang tiba-tiba mengejutkan kami adalah ketika ibu saya mengatakan suatu hari bahwa ia tidak pernah melihat suaminya, atau ayah saya, melaksanakan puasa sejak pertama menikah sampai ia meninggal dunia (kira-kira 11 atau 12 tahun lamanya). Ibu saya tidak tahu apakah suaminya itu juga tidak puasa sebelum menikah. Ibu saya mengatakan bahwa suaminya selalu mengatakan bahwa ia sulit berpuasa karena pekerjaannya adalah seorang supir truk. Ia membawa truk buatan tahun tujuh puluh dan delapan puluhan yang tidak dilengkapi dengan AC. Sedangkan ia mengendari truk itu berjam-jam sepanjang padang pasir Teluk Persia. Saya tahu itu bukan alasan yang tepat. Akan tetapi, inilah yang diceritakan ibu saya kepada kami. Pertanyaan saya: bagaimana cara kami, menggantikan ayah kami, meng-qadha semua puasa yang ditinggalkannya selama bertahun-tahun ini, dan kami tidak tahu berapa jumlahnya? Juga puasa yang ditinggalkannya selama hidupnya yang membentang selama 60 tahun? Juga ibu saya yang tidak berpuasa di awal-awal baligh, sebelum menikah, karena tidak tahu wajibnya puasa sebab ia tinggal di pedesaan? Ia sendiri tidak tahu berapa hari puasa yang telah ia tinggalkan itu, sebab hal itu terjadi 36 tahun yang lalu, maka bagaimanakah caranya kami meng-qadha semua puasa ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah 
Pertama,
Siapa yang meninggalkan puasa karena ada halangan, misalnya sedang menempuh perjalanan atau sakit yang kemungkinannya bisa disembuhkan, diwajibkan untuk meng-qadha puasa yang ditinggalkannya itu. Jika ia meninggal dunia sebelum meng-qadha-nya, padahal ia memiliki kesempatan untuk itu, maka puasa itu menjadi tanggungannya, dan disunahkan bagi ahli warisnya untuk berpuasa menggantikannya, berdasarkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menanggung kewajiban puasa maka walinya yang berpuasa menggantikannya.”  Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1952) dan Muslim (1147) 
Jika ia meninggal dunia sebelum sempat meng-qadha-nya, dan memang ia tidak memiliki kesempatan untuk meng-qadha-nya, maka tidak ada tanggungan baginya, dan walinya tidak perlu meng-qadha apa-apa. Namun jika ia meninggalkan puasa karena melalaikannya, tanpa ada alasan, maka ini tidak diwajibkan qadha dan tidak sah jika di-qadha, karena  waktunya telah berlalu. Hal ini telah dijelaskan di dalam soal-jawab nomor 50067 dan nomor 81030 
Atas dasar itu:
Apa yang terlihat dari keadaan ayahmu yang tidak pernah meninggalkan shalat dan selalu berbuat baik kepada orang lain, maka bisa disimpulkan bahwa ia tidak meninggalkan puasa tanpa alasan. Ia meninggalkan puasa karena alasan perjalanan. Tidak diketahui apakah ia meng-qadha puasanya di perjalanan pada musim dingin, misalnya, ataukah tidak. Tidak diketahui pula, apakah ia memiliki kesempatan untuk meng-qadha-nya di luar hari kerja atau ketika ia pulang ke rumah, ataukah ia selalu pergi karena pekerjaannya itu, sehingga tidak memiliki kesempatan untuk mengqadhanya sampai ia meninggal dunia.
Di hadapan kemungkinan-kemungkinan itu, maka kami katakan: jika kalian tidak mengetahui persis apa yang terjadi, lalu kalian berpuasa menggantikannya semampu kalian, maka itu adalah perbuatan baik. Kalian akan mendapat pahala atas itu. Namun ini bukan kewajiban. Tidak perlu tahu secara persis berapa jumlah puasa yang ditinggalkan ayah kalian. Cukup laksanakan yang menurut kalian pasti ditinggalkan ayah kalian. Puasalah semampu kalian. Jangan sampai mengganggu pekerjaan-pekerjaan kalian yang lain, yang lebih penting dan lebih bermanfaat. 
Qadha ini bisa dilakukan secara bersama oleh seluruh ahli waris. Siapa di antara mereka yang tidak mampu berpuasa, maka beri makanlah, atas nama ayahmu, satu orang misikin untuk satu harinya. 
Syaikh Ibn Utsaimin berkata:
Disunahkan bagi walinya untuk meng-qadha-nya. Jika ia tidak melakukannya, menurut kami, beri makan satu orang miskin untuk satu harinya—diqiaskan kepada puasa wajib. 
Ia berkata:
Jika ditakdirkan laki-laki itu memiliki lima belas anak. Setiap dari mereka ingin berpuasa dua hari dari tiga puluh hari yang ditinggalkan ayahnya, maka itu dibolehkan. Seandainya saja anak ayah itu berjumlah 30 orang, lalu setiap dari mereka berpuasa satu hari, maka itu juga dibolehkan. Karena ketika mereka semua berpuasa maka jumlahnya menjadi 30 hari. Tidak masalah jika mereka berpuasa serentak di hari yang sama, atau di hari yang berlainan, misalnya yang tertua berpuasa hari ini, dan adiknya berpuasa besoknya, demikian selanjutnya sampai sempurna 30 hari. Demikian. Dinukil dari “Syarh al-Mumti’” (6/450-452). 
Kedua,
Puasa yang ditinggalkan ibumu setelah dewasa dan sebelum menikah, penjelasannya sebagai berikut:

  1. puasa yang ditinggalkan karena lalai tanpa alasan, maka tidak wajib di-qadha, seperti yang telah dijelaskan di atas.
  2. puasa yang ditinggalkan karena alasan haidh, perjalanan, atau sakit, wajib di-qadha. Ia harus meng-qadha sejumlah puasa yang menurutnya kira-kira pasti ditinggalkan.
    Wallahu a’lam.

Islamqa

3.Meninggal dan Masih Punya Hutang Puasa

 Ustadz Ammi Nur Baits

Hutang Puasa Orang Tua yang Meninggal

Assalmu’alykum ustadz….
Ana mau tanya seputar hukum puasa dahulu sebelum ibu ana meninggal beliau titip pesan ke ana tuk diqadhakan ataw d bayarkan fidyah atas puasanya yang ditinggalkannya,bagaimana hukum meng-qadha atw fidyahnya apakah wajib
atau tidak? Jazakallahu khairan
Dari: A. Ghozi Putra

Jawaban:

Wa alaikumus salam
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من مات وعليه صيام صام عنه وليُّه
“Siapa yang meninggal dan dia masih memiliki tanggungan puasa maka walinya wajib mempuasakannya.” 

(HR. Bukhari 1952 dan Muslim 1147)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan,

أنّ امرأة ركبَت البحر فنذَرت، إِنِ الله -تبارك وتعالى- أَنْجاها أنْ تصوم شهراً، فأنجاها الله عز وجل، فلم تصم حتى ماتت. فجاءت قرابة لها إِلى النّبيّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فذكرت ذلك له، فقال: أرأيتك لو كان عليها دَيْن كُنتِ تقضينه؟ قالت: نعم، قال: فَدَيْن الله أحق أن يُقضى، فاقضِ عن أمّك

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,
Ada wanita yang naik perahu di tengah laut, kemudian dia bernazar, jika Allah menyelamatkan dirinya maka dia akan puasa sebulan. Dan Allah menyelamatkan dirinya, namun dia belum sempat puasa sampai mati. Hingga datang putri wanita itu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia menyebutkan kejadian yang dialami ibunya. Lantas beliau bertanya: ‘Apa pendapatmu jika ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?’ ‘Ya.’ Jawab wanita itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Hutang kepada Allah lebih layak untuk dilunasi. Lakukan qadha untuk membayar hutang puasa ibumu.’

(HR. Ahmad 1861, Abu Daud 3308, Ibnu Khuzaimah 2054, dan sanadnya dishahihkan Al-A’dzami).

Juga dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,
أنّ سعد بن عبادة -رضي الله عنه- استفتى رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فقال: إِنّ أمّي ماتت وعليها نذر فقال: اقضه عنها
Bahwa Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya ibuku mati dan beliau memiliki utang puasa nadzar.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lunasi hutang puasa ibumu.’ 

(HR. Bukhari 2761, An-Nasai 3657 dan lainnya).

Ketiga hadis di atas menunjukkan bahwa ketika ada seorang muslim yang memiliki hutang puasa dan belum dia qadha hingga meninggal maka pihak keluarga (wali) orang ini berkewajiban mempuasakannya.
Kemudian, dari ketiga hadis di atas, hadis pertama bersifat umum. Dimana qadha puasa atas nama mayit, berlaku untuk semua utang puasa wajib. Baik utang puasa ramadhan maupun utang puasa nadzar.

Sedangkan dua hadis berikutnya menegaskan bahwa wali berkewajiban mengqadha utang puasa nadzar yang menjadi tanggungan mayit.

Berangkat dari sini, ulama berbeda pendapat, apakah kewajiban mengqadha utang puasa mayit, berlaku untuk semua puasa wajib ataukah hanya puasa nadzar saja.

Pendapat pertama menyatakan bahwa kewajiban mengqadha utang puasa mayit berlaku untuk semua puasa wajib. Baik puasa ramadhan, puasa nadzar, maupun puasa kaffarah. Ini adalah pendapat syafiiyah dan pendapat yang dipilih Ibnu Hazm. Dalil pendapat ini adalah hadis A’isyah di atas, yang maknanya umum untuk semua utang puasa.

Pendapat kedua, bahwa kewajiban mengqadha utang puasa mayit, hanya berlaku untuk puasa nadzar, sedangkan utang puasa ramadhan ditutupi dengan bentuk membayar fidyah. Ini adalah pendapat madzhab hambali, sebagaimana keterangan Imam Ahmad yang diriwayatkan Abu Daud dalam Masailnya. Abu Daud mengatakan,

سمعت أحمد بن حنبل قال: لا يُصامُ عن الميِّت إلاَّ في النَّذر

“Saya mendengar Ahmad bin Hambal mengatakan: ‘Tidak diqadha utang puasa mayit, kecuali puasa nadzar.”

(Ahkam Al-Janaiz, hlm. 170).

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadis dari ummul mukminin, A’isyah radhiyallahu ‘anha.
Dari Amrah – murid A’isyah – beliau bertanya kepada gurunya A’isyah, bahwa ibunya meninggal dan dia masih punya utang puasa ramadhan. Apakah aku harus mengqadha’nya? A’isyah menjawab,

لا بل تصدَّقي عنها مكان كل يوم نصف صاعٍ على كل مسكين

“Tidak perlu qadha, namun bayarlah fidyah dengan bersedekah atas nama ibumu dalam bentuk setengah sha’ makanan, diberikan kepada orang miskin.

(HR. At-Thahawi dalam Musykil Al-Atsar 1989, dan dishahihkan Al-Albani)

Dalil lainnya adalah fatwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Dari Said bin Jubair – murid Ibnu Abbas – bahwa gurunya pernah mengatakan,

إِذا مرض الرجل في رمضان، ثمّ مات ولم يصم؛ أطعم عنه ولم يكن عليه قضاء، وإن كان عليه نَذْر قضى عنه وليُّه

“Apabila ada orang sakit ketika ramadhan (kemudian dia tidak puasa), sampai dia mati, belum melunasi utang puasanya, maka dia membayar fidyah dengan memberi makan orang miskin dan tidak perlu membayar qadha. Namun jika mayit memiliki utang puasa nadzar, maka walinya harus mengqadhanya.

(HR. Abu Daud 2401 dan di shahihkan Al-Albani).

Berdasarkan keterangan di atas, pendapat yang kuat untuk pelunasan utang puasa mayit dirinci menjadi dua:

Pertama, jika utang puasa mayit adalah utang puasa ramadhan maka cara pelunasannya dengan membayar fidyah dan tidak diqadha. Tentang tata cara membayar fidyah bisa dipelajari di: Membayar Fidyah dengan Uang
Kedua, jika utang puasa mayit adalah puasa nadzar maka pelunasannya dengan diqadha puasa oleh keluarganya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits

4.Hamil Sebelum Memulai Qadha, Dan Ketika Hamil Tidak Mampu Berpuasa

Istri saya memiliki hutang puasa bulan Ramadhan yang lalu karena haidh. Rencananya ia akan meng-qadha hutang puasanya itu beberapa hari menjelang Ramadhan ini. Tapi sebelum memulai qadha, ia sudah hamil. Dokter kandungan menyarankannya agar jangan berpuasa selama masa kehamilan ini, bahkan mungkin sampai masa menyusui, karena kondisinya yang lemah yang kemungkinan akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Oleh karena itu, ia tidak mungkin bisa berpuasa selama masa kehamilan ini. Apa yang semestinya dilakukan saat ini? Apa yang harus dilakukannya jika ia tidak bisa meng-qadha puasa bulan Ramadhan yang lalu sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun ini?

Teks Jawaban

Alhamdulillah 
Allah memberikan keluasan waktu untuk meng-qadha puasa Ramadhan bagi yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan—karena alasan syar’i’—sampai datang Ramadhan berikutnya. Namun demikian, seorang muslim tidak boleh sampai lalai dengan keluasan waktu ini sehingga menunda-nunda pelaksanaan qadha puasa. Karena bisa saja di akhir-akhir kesempata itu ia akan dihadapkan pada kondisi yang membuatnya tidak bisa berpuasa, sehingga ia tidak bisa menunaikan qadha puasa tersebut sama sekali, terutama para wanita yang bisa saja tanpa diduganya tiba-tiba hamil, haidh atau nifas. 
Barangsiapa yang menunda qadha puasa tanpa alasan syar’i’, sampai waktunya menjadi sempit, kemudian tanpa disadarinya Sya’ban pun berlalu dan ia masih belum melaksanakan qadha puasanya, maka ia berdosa. Namun jika itu terjadi karena ada halangan syar’i maka itu tidak menjadi dosa baginya. Pada kedua kondisi ini, ia tetap wajib menunaikan qadha puasa Ramadhan sebelumnya setelah Ramadhan berikutnya. Sebagian ulama mewajibkan juga, di samping kewajiban qadha tersebut, kewajiban memberi makan orang miskin untuk setiap hari qadha-nya. Jika hal itu tidak memberatkannya maka itu lebih baik baginya. Namun jika ia tidak mampu melakukannya, maka qadha saja sudah cukup.

Lihat soal-jawab nomor 26865 dan 21710. 

Syaikh Muhammad ash-Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya:
Apa hukum orang yang menunda qadha puasa sampai masuk Ramadhan berikutnya? 

Ia menjawab:

Menunda pelaksanan qadha puasa sampai masuk Ramadhan berikutnya adalah tidak boleh, berdasarkan pendapat yang masyhur di kalangan ulama. Karena Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كان يكون عليَّ الصوم من رمضان فلا أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان

“Aku punya hutang puasa Ramadhan. Aku tidak bisa meng-qadha-nya kecuali di bulan Sya’ban.”

Ini menunjukkan bahwa tidak ada qadha setelah datangnya Ramadhan. Jika seseorang melakukan hal itu tanpa alasan syar’i maka ia telah berdosa, dan ia diharuskan langsung meng-qadha-nya setelah Ramadhan berikutnya. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah diwajibkan pula, di samping itu, memberi makan orang miskin ataukah tidak. Berdadarkan pendapat yang shahih: tidak diwajibkan. Karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,  

وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” Dalam firman ini, Allah hanya mewajibkan qadha. Dinukil dari “Majmu’ Fatawa Syaikh Ibn ‘Utsaimin”

(19/soal nomor 357) 

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah juga ditanya:
Seorang wanita berbuka puasa beberapa hari di bulan Ramadhan tahun lalu, kemudian ia meng-qadha-nya pada akhir bulan Sya’ban. Tiba-tiba ia haidh dan terus berlangsung sampai masuk bulan Ramadhan, sehingga masih tersisa hutang puasanya satu hari lagi. Apa yang harus ia lakukan? 
Ia menjawab:
Yang wajib dilakukan oleh wanita tersebut adalah tetap meng-qadha puasa yang ditinggalkannya itu walaupun ia lakukan setelah Ramadhan kedua. Karena ia meninggalkan qadha puasa Ramadhan pertama disebabkan oleh adanya alasan syar’i . Namun jika tidak memberatkan sebaiknya ia meng-qadha-nya pada musim dingin (sebelum Ramadhan kedua datang) meskipun itu tidak berurutan, sehari puasa, sehari tidak. Itu wajib ia lakukan meskipun ia dalam keadaan menyusui. Sebaiknya ia bergegas menyelesaikan qadha puasa Ramadhan pertama sebelum datang Ramadhan kedua. Jika itu tidak mungkin dilakukannya maka tidak mengapa jika ia mengakhirkannya sampai Ramadhan kedua. Dinukil dari “Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin”
(19/soal nomor 360).

Kesimpulan: qadha puasa yang belum diselesaikannya itu tetap menjadi hutang bagi istri Anda. Ia harus membayarnya ketika ada kesempatan.
Wallahu ‘alam.

Islamqa

Semoga bermanfaat untuk kita semua…aamiin

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Dari beberapa sumber untuk saudaraku…semoga bermanfaat.

Saudaramu

Abdurrahim Ayyub

bagikan ini

Leave a Reply

You are not allowed to enter any URLs in the comment area.

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

*